Pemuda Muhammadiyah Takut RUU Terorisme Picu Stigma Mirip PKI

Dahnil Anzar Simanjuntak. foto: buletin indonesia news


MUSTANIR.COM, Jakarta – Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengaku khawatir pada pemberian kewenangan terlalu luas kepada Polri dan TNI dalam pemberantasan terorisme.

Menurut dia, dampak buruk dari perluasan yang akan tertuang di dalam RUU Terorisme itu dapat mengulangi stigma negatif yang muncul selepas peristiwa G30S pada anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Berangkat dari kasus G30S, kita seperti memberi cek kosong kepada TNI untuk menindak apapun yang dianggap terlibat PKI,” ujar Dahnil usai menghadiri diskusi di PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Rabu (23/5).

Semenjak insiden di Mako Brimob Depok, Dahnil melihat seolah ada narasi yang sedang diupayakan sebagai justifikasi dalam pemberantasan terorisme.

Masalahnya, ia melihat narasi tersebut sebagai monolog dari aparat penegak hukum tanpa ada pengawasan yang berimbang. Sehingga potensi penyalahgunaan revisi UU Terorisme sangat besar terjadi. Kekhawatiran Dahnil muncul karena naskah revisi UU Terorisme masih banyak celah.

Dahnil heran beda pendapat mengenai definisi terorisme muncul ketika pembahasan memasuki fase akhir. Perbedaan pendapat pun dia lihat muncul dari berbagai pihak mulai dari Kapolri, Menkopolhukam, dan TNI.

“Pascakasus Mako Brimob saya menemukan narasi serupa, semuanya narasinya diciptakan detail. Yang disebarkan ke sosmed itu kondisinya parah, mirip narasi 1965 dulu sehingga ada legalitas moral, seolah diciptakan legalitas moral kita bisa lakukan apapun kepada mereka yang kejam,” tutur Dahnil.

Senada dengan Dahnil, Komisioner Komnas HAM 2012-2017 Meneger Nasution mengatakan revisi UU Terorisme perlu mendapat sorotan karena berpotensi menimbulkan stigma baru.

Meneger memberi contoh kasus Siyono, terduga teroris asal Klaten, yang masih berstatus tersangka namun tewas ketika berada di penanganan Densus 88.

“Padahal perlu ada pembuktian lebih jauh terhadap para tersangka tersebut,” kata Meneger di forum yang sama.

Meneger memandang terorisme dapat lahir dari beragam latar belakang. Menurutnya apapun agama dan etnisnya, terorisme sebetulnya anti ketuhanan dan kemanusiaan. Karena itu terorisme tidak layak dibela siapa pun.
(cnnindonesia.com/24/5/18)

Categories