Kapitalisme Menjauhkan Umat dari Syari’at

Ilustrasi. Foto: Radio Bintang Tenggara

Oleh: Yuliyati Sambas, SPt.
Member Akademi Menulis Kreatif Regional Bandung

MUSTANIR.COM – Masa kini umat benar-benar dibuat bingung dengan sikap dan pernyataan dari sebagian ulama yang menyatakan bahwa dana non halal alias haram dapat digunakan. Sampai di sini akan muncul pertanyaan benarkah demikian? Jangan-jangan itu hanyalah berita hoax semata, dimana di era kebebasan informasi saat ini Negeri Indonesia tercinta tengah dibanjiri dengan derasnya berita hoax tanpa mampu untuk dibendung kehadirannya.

Tapi itulah faktanya, beberapa waktu lalu tepatnya pada tanggal 8 November 2018 Majelis Ulama Indonesia (MUI) memutuskan dalam rapat pleno Dewan Syariah Nasional (DSN) di Ancol, Jakarta bahwa bank syariah boleh untuk menggunakan dana non halal. Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis 8/11/2018 mengatakan “Dana non halal wajib digunakan dan disalurkan untuk kemaslahatan umat dan kepentingan umum yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.” Dana non halal yang dimaksud MUI adalah segala pendapatan Bank Syariah yang bersumber dari kegiatan yang tidak halal alias haram.

Rapat yang dipimpin oleh Ketua Umum MUI sekaligus cawapres nomor urut 01 KH Ma’ruf Amin menegaskan “Sebenarnya bukan dana nonhalal, tapi dana yang tak boleh digunakan oleh bank, jadi itu masuk dana sosial, oleh karena itu dana itu harus digunakan untuk kepentingan sosial,” kata Ma’ruf saat ditemui di kawasan Cempaka Putih, Jakarta, Sabtu, 10/11/2018 (CNNIndonesia.com).

Bagi seorang muslim yang menginginkan ridha Allah dapat diraih tentu akan merasa heran dan luar biasa kaget mengetahui fakta tersebut. Sejatinya yang dipahami bahwa ulama adalah sosok yang oleh agama dipandang sebagai warasatul anbiya, penyambung lidah dari ajaran-ajaran Nabi Saw, saat ini sebagian dari mereka demikian berani untuk menetapkan sesuatu yang jelas-jelas bertentangan dengan apa yang diajarkan, didakwahkan, dan diperjuangkan oleh Rasulullah yang mulia.

Alih-alih melarang segala aktivitas haram ataupun yang menghasilkan dana tak halal, mereka malah memutuskan dana tak halal boleh untuk digunakan dengan dalih bagi kepentingan sosial. Sementara apa yang menjadi pandangan mereka akan diikuti dan dibenarkan oleh masyarakat. Di sinilah letak kebahayaannya, ketika para ulama justru melakukan penyimpangan dari apa yang telah termaktub dalam kitab suci.

Hal ini terjadi karena sistem sekuler kapitalis yang berlaku saat ini telah menjadikan materi sebagai panglima, halal haram bukanlah patokan yang wajib untuk dirujuk, aturan agama dinihilkan perannya dalam mengatur urusan kehidupan. Tak heran ketika sesuatu yang sebelumnya sudah demikian jelas terkait dengan keharaman mengambil dan menggunakan dana yang berasal dari akad bathil, kini dikaburkan menjadi boleh digunakan atas nama bantuan sosial.

Pada sistem kapitalis segala hal diarahkan untuk menghasilkan sebanyak-banyak materi, pun dalam hal kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah atas rakyat dalam semua lini kehidupan. Dan keputusan para ulama pada rapat pleno Dewan Syariah Nasional MUI menampakkan ketidak-berdayaan ulama dalam menghindarkan diri dari dampak kapitalisme yang berasas sekuler.

Mencampur adukkan antara hak dan bathil menjadi sebuah keniscayaan. Bukannya mengajak masyarakat untuk menghindari segala aktivitas yang dilarang oleh agama, para ulama justru bersepakat bahwa dana-dana dari aktivitas non halal (baca: haram) yang merupakan kekhasan dari praktek perbankan disalurkan pada aktivitas sosial yang mulia. Padahal Rasulullah Saw bersabda bahwa terkait harta, kaum muslimin akan ditanya bukan hanya kemana dibelanjakan/disalurkan melainkan juga akan dimintai pertanggung-jawaban dari mana harta mereka didapat.

Dari Abu Barzah al-Aslami ra, berkata: Bersabda Rasululla Saw “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggung-jawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan kemana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.” (HR Tirmidzi, ad-Darimi, dan Abu Ya’la)

Sistem kapitalisme yang berlandaskan sekulerisme juga akan meniscayakan umat makin jauh dari syariat-Nya yang agung, sementara Allah SWT Sang Maha Penggenggam alam semesta telah memerintahkan untuk melaksanakan islam secara kaffah, sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS al-Baqarah ayat 208)

Maka sudah saatnya umat mencampakkan sistem kapitalisme sekuler yang saat ini tengah eksis di negeri ini dan segera beralih pada satu sistem yang secara historis telah mampu mengarahkan umat pada loyalitas yang sempurna akan syari’at, disamping itu sistem ini adalah sebuah institusi yang Rasulullah Saw terapkan di tengah umat, ia adalah Daulah Islam yang dilanjutkan oleh para shahabat dan khalifah sesudahnya yakni Daulah Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories