Indef: Ada Keganjilan dalam Neraca Gula

Konferensi pers Institute for Development of Economic and Finance (Indef) di Jakarta, Senin (14/1). Foto: ANTARA News

MUSTANIR.COM, JAKARTA — Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rusli Abdullah mengatakan, harga gula pasir premium pada 2018 tampak lebih tidak stabil dibanding dengan tahun sebelumnya. Hal ini terlihat dari nilai coefficient of variation (COV) gula pasir premium 2018 (0,021) yang lebih besar dibandingkan tahun 2017 (0,016).

Rusli menjelaskan, dibanding dengan 2017, harga gula pasir premium memang lebih rendah pada 2018. Berdasarkan data yang diolah dari hargapangan.go.id, rata-rata harga sepanjang 2018 mencapai Rp 15.537 per kilogram, sedangkan pada 2017 adalah Rp 16.743 per kilogram.

“Begitupun dengan harga gula pasir lokal yang menurun sekitar Rp 1.000 per kilogram,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (14/1).

Tapi, di balik itu, harga gula pasir premium lebih tidak stabil. Hal ini kebalikan dengan produk lokal yang COV-nya mengalami penurunan dari 0.033 pada 2017 menjadi 0,022. Artinya, tingkat volatilitasnya lebih rendah atau cenderung stabil.

Menurut Rusli, ada beberapa faktor yang menyebabkan harga gula pasir premium lebih fluktuatif. Termasuk, tersendatnya alur pasokan dan permintaan. “Ada pasokan dari distributor yang tidak lancar atau tidak selancar gula lokal,” katanya.

Fakta ini dinilai Rusli sebagai keganjilan. Sebab, gula pasir premium kebanyakan didapat dari impor yang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Menurut hukum ekonomi, tingkat supply atau ketersediaan melimpah ini, akan berdampak pada kestabilan harga, namun nyatanya tidak.

Rusli menjelaskan, sayangnya, tingkat volatilitas gula ini belum menjadi perhatian banyak orang seperti beras. Pasalnya, tingkat penggunaan gula oleh masyarakat tidak seintensif beras. “Tapi, di balik ketidakramaian itu, sebenarnya banyak hal yang harus diperhatikan seperti volatilitas harga ini,” ujarnya.

Ekonom Indef Ahmad Heri Firdaus mengatakan, salah satu indikasi faktor penyebab volatilitas harga gula pasir premium ini adalah tertahannya supply di dalam negeri. Atau, bisa jadi, ada penumpukan stok di pabrik maupun titik lain.

Keganjilan lain juga terjadi pada tingkat impor gula. Pada 2018, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan kebutuhan industri terhadap gula rafinasi sebesar 2,8 juta ton. Kementerian Perdagangan (Kemendag) memberikan kuota impor sebanyak 3,6 juta ton dengan dibagi dalam dua semester, yakni sekitar 1,8 juta ton per semester.

Tapi, realisasi impor yang terjadi pada semester pertama 2018 adalah 1,56 juta ton. Ini menggambarkan bahwa industri tidak membutuhkan gula rafinasi sebanyak yang direncanakan di awal tahun. Hal ini mendorong Kemendag merevisi kuota dari 3,6 juta ton menjadi 3,15 juta ton.

Heri menjelaskan, perubahan terjadi lagi pada semester dua 2018, ketika realisasi impor melejit menjadi 3,37 juta ton. Meski masih memenuhi kuota impor di awal sebesar 3,6 juta ton, jumlah tersebut meleset dari target kuota tengah tahun, yakni 3,15 juta ton.

Realisasi impor tersebut masih di luar impor gula untuk konsumsi sebesar 1,01 juta ton di 2018. “Ini membuktikan, gula yang diimpor tidak hanya kebutuhan industri, juga untuk kebutuhan konsumsi,” ujar Heri.

Keganjilan kembali terjadi pada harga gula pasir konsumsi di pasaran. Berdasarkan data dari World Bank, pada Desember 2018, harga gula mentah mencapai 0,28 dollar per kilogram atau tidak sampai Rp 4.000 per kilogram (kurs 1 dolar AS sebesar Rp 14.117). Sedangkan, di pasaran, harga gula dapat mencapai Rp 11 ribu hingga Rp 12 ribu per kilogram.

Dengan kondisi tersebut, disparitas mencapai Rp 7 ribu per kilogram. Heri mempertanyakan, apakah produksi dari gula mentah dunia sampai menjadi gula pasir eceran di pasaran membutuhkan biaya sangat besar. “Kalau harga terlalu jauh, di sini manisnya rente impor gula,” katanya. []

Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories