Bongkar Agenda ‘Politik Kardus’ Rezim Jokowi

Ilustrasi. Foto: tribunnews

Oleh: AB Latif
Direktur Indopolitik Wacth

MUSTANIR.COM – Hiru-pikuk Pemilu 2019 telah menyita perhatian jutaan mata rakyat indonesia.Intrik-intrik politik sudah disiapakan dalam rangka memenangkan Pilpres 2019 mendatang.

Namun Ada sedikit yang berbeda dengan pemilu sebelumnya.semenjak KPU memutuskan untuk memakai kotak suara yang terbuat dari kardus pada Pilpres 2019 membuat viral di media sosial.

Menurut ketua KPU Arief Budiman, ada beberapa alasan mengapa KPU memutuskan memakai kotak suara dari bahan kartun atau kardus.

Diantaranya adalah kotak suara berbahan kardus yang kedap air atau kartun itu sudah di uji coba pada Pilkada 2014, 2015, 2017, dan 2018 dan juga karena banyak negara lain juga menggunakannya. Selain itu harganya juga jauh lebih murah dibandingkan dengan kotak suara yang terbuat dari aluminium.

Keuntungan yang lain adalah tidak perlu perawatan khusus dan tidak perlu ruang penyimpanan karena bersifat habis pakai (detiknews, 15/10/18).

Secara analisa politik, sebenarnya kita bisa melihat ada agenda politik yang tersembunyi dibalik politik.

Secara logika akal sehat bisa melihat fakta Pemilu dan Pilpres tahun 2014 yang lalu. Pada Pemilu dan Pilpres tahun 2014 anggaran mencapai Rp. 9,1 triliun (tribunnews.com, 26 agustus 2014 ).

Sedangkan untuk anggaran Pemilu dan Pilpres tahun 2019, pemerintah telah menganggarkan dana sebesar Rp. 24,9 trilliun (tirto.id, 16 agustus 2018).

Jika pada tahun 2014 dengan anggaran Rp. 9,1 Trilliun saja bisa dengan kotak dan bilik suara yang terbuat dari aluminium, tapi mengapa anggaran untuk tahun 2019 yang naik hampir 2,5 % lebih besar malah menggunakan kardus ? lalu kemana selisih uang Rp. 15,8 trilliun itu ? aneh bin ajaib jika dengan dana Rp. 9,1 T bisa dengan aluminium sementara dana Rp. 24,9 T dengan kardus ? Jadi jelas sudah arah dan tujuan mengapa harus pakai kardus,mereka menginginkan keuntungan yang lebih besar dibanding lima tahun yang lalu.

Alasan yang lain, mengapa harus pakai kardus adalah beralihnya tender untuk logistic pemilu. Jika tetap memakai aluminium dapat dipastikan masih banyak stock atau sisa lama yang masih bisa dipakai sehingga jumlah produksi tidak terlalu banyak serta pemegang tender produksi tetap pada yang lama. Artinya pemasukan dan labanya pun tidak sebegitu besar.

Hal ini sangat berbeda jika diproduksi penuh, maka jumlah dan keuntungannya jauh akan lebih besar lagi. Artinya anggaran sebesar itu tidak akan tersedot jika tetap memakai aluminium. Untuk menghabiskan dana sebesar itu, maka harus ada langkah atau alasan yang pas. Alasannya adalah dengan produksi baru walau dengan kardus.

Jadi jelas penghematan bukanlah alasan yang dapat diterima akal sehat. Jika memang benar penghematan anggaran alasannya tentu tidak akan ada produksi lagi. Juga jika memang benar penghematan menjadi alasan utama tentu anggaran tidak akan ada kenaikan. Yang ada justru menurun atau berkurang dengan dipangkas pengeluaran yang tidak perlu.

Bahan kardus sangat rawan rusak jika tidak benar-benar dijaga dengan baik. Hal ini telah terbukti sudah 2.065 kotak suara dan 110 bilik suara sudah rusak terendam banjir dikantor KPU Badung, 11 desember 2018 lalu. Dari kelemahan inilah yang akan menjadi target kecurangan para politisi busuk. Dengan bahan kartun atau kardus mereka akan dengan mudah memanipulasi surat suara. Mereka akan bermain cantik menipu rakyat indonesia.

Inilah sekelumit agenda yang mungkin telah diseting oleh para politisi busuk yang sangat berambisi menguasai negeri ini. Oleh karena itu umat islam harus jeli dan teliti untuk mengawal setiap ada kejanggalan-kejanggalan yang terjadi. Hanya di rezim inilah hal semacam ini bisa terjadi. Semakin mahal biaya semakin berkurang kualitasnya. Mereka hanya menginginkan kemuliaan diatas kecurangan. []

Sumber: mediaoposisi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories