Women Empowering Tipuan Keji Atas Perempuan

Ilustrasi. foto: Sayfty

Oleh: Endiyah Puji Tristanti, S.Si
(Penulis dan Pemerhati Politik Islam)

MUSTANIR.COM – Dunia merasakan penderitaan berkepanjangan akibat penerapan sistem ekonomi kapitalisme dan sistem politik demokrasi. Pembangunan dan kesejahteraan dunia hanyalah narasi-narasi kosong yang terus diulang untuk membentuk harapan semu dalam benak masyarakat.

Penerapan sistem ekonomi kapitalisme ribawi yang bertumpu pada ekonomi non riil, standar mata uang yang tidak berbasis pada emas dan perak, belanja negara yang ditopang hutang ribawi, serta asas manfaat yang mengabaikan halal haram menghasilkan kondisi ekonomi dunia yang tidak stabil dan rentan akan krisis. Kapitalisme kini diambang kebangkrutan.

Adapun penerapan sistem demokrasi yang dikendalikan korporasi menjadi jalan bagi hegemoni negara adidaya difasilitasi lembaga internasional terus menghasilkan ketidakadilan dan kesenjangan ekonomi yang semakin menganga. Bayang-bayang kerusakan sistem sosial mengiringi setiap jengkal keterpurukan ekonomi.

Sebuah jajak pendapat dilakukan oleh firma hukum Slater dan Gordon kepada lebih dari 2.000 orang dewasa menemukan kalau kekhawatiran soal uang menjadi salah satu alasan mengapa pasangan suami istri berpisah. Ini dikutip dari laman the Independent, Kamis (11/1/2018).

Di China, Thailand, Iran, dan Korea Selatan mengalami lonjakan perceraian lebih lima kali lipat dibandingkan beberapa dekade terakhir dan ini sejalan dengan perkembangan ekonomi yang signifikan. Sungguh disayangkan upaya membangun satu bidang kehidupan justru meruntuhkan bidang kehidupan yang lain.

Bagaimana dengan Indonesia? Sejak tahun 2009 hingga 2016, tercatat kenaikan angka perceraian sebesar 16-20 persen. Pada tahun 2015, setiap satu jam terjadi 40 sidang perceraian atau sekitar 340.000 lebih gugatan cerai. Keretakan hubungan ini bukan tidak berdampak.

Berdasarkan data yang dihimpun Republika dari KPAI, sepanjang periode 2011-2016, tercatat 4.294 pengaduan kasus anak korban pengasuhan keluarga dan pengasuhan alternatif. Jumlah ini menduduki peringkat kedua setelah kategori laporan kasus anak berhadapan dengan hukum (ABH) yang mencapai 7.698 kasus.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pun merilis pada tahun 2014 kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak (usia SD sampai SMA) ada 67 kasus, tetapi pada tahun 2015 menjadi 79 kasus. Untuk kasus pelaku tawuran sendiri, di tahun 2014 ada 46 kasus, sedangkan di 2015 menjadi 103 kasus. Kasus-kasusnya juga cukup mengerikan, mulai dari kriminalitas perampokan, bullying, penganiayaan, hingga pembunuhan sadis.

Seolah menutup mata, alih-alih berupaya membangun kembali struktur sosial yang telah porak poranda, mengembalikan peran keluarga sebagai basis ketahanan negara, pemerintah justru menarik perempuan termasuk kaum ibu untuk terjun ke gelanggang pertarungan ekonomi berhadapan dengan laki-laki. Perempuan dituntut memikul beban berlapis yakni mengurus keluarga, menyelamatkan ekonomi keluarga dan bahkan menyelamatkan ekonomi negara.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani dalam seminar Empowering Women in the Workplace, di Hotel Westin, Bali, Selasa (9/10/2018) menyatakan bahwa pertama harus dipahami dari sebuah negara untuk meningkatkan partisipasi tenaga kerja perempuan, baik untuk perekonomian, untuk perempuan dan untuk keluarganya.

Dengan berpura-pura petinggi lembaga penghancur ekonomi dunia, Managing Director IMF Christine Lagarde berperan menjadi sosok peduli perempuan. Ia menyampaikan saat ini dunia masih kental dengan patriarki, seharusnya perempuan juga memiliki hak yang sama untuk bekerja di luar rumah. Wujud diskriminasi perempuan misalnya hak waris perempuan dan laki-laki, perempuan dilarang bekerja padahal bekerja adalah hak sebagai perempuan. Padahal sesungguhnya Lagarde sedang menikam sejumlah hukum syariat Islam berkaitan dengan perempuan.

Di tempat lain Pertemuan Parlemen Tingkat Tinggi di Sidang Tahunan Dana Moneter Internasonal dan Bank Dunia di Bali (8-9/10/2018) salah satu pembicara dari politisi PDIP, Evita menjelaskan penting untuk memastikan pendidikan bagi kaum perempuan karena perempuan memiliki peran penting dalam meningkatkan partisipasi perempuan dalam ekonomi.

Berdasarkan data Organisasi Buruh Internasional (ILO), sebanyak 865 juta perempuan memiliki potensi untuk memaksimalkan kontribusi mereka dalam pembangunan ekonomi. Untuk itu penting bagi Indonesia turut dalam euforia pengarusutamaan gender equality dalam program kebijakan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan (PEP). Aroma eksploitasi perempuan dan anak perempuan menjadi sangat pekat.

Uraian ini menggambarkan batapa posisi Indonesia sebagai negara pengikut negara adidaya semakin kokoh. Indonesia benar-benar lemah tak memiliki bargaining posisi yang kuat untuk menolak berbagai paket kebijakan (penjajahan) di forum internasional. Pemerintah Indonesia lebih mementingkan prestise dan perhargaan semu internasional ketimbang menyelamatkan negara dari kehancuran kaum perempuan dan generasi.

Selamatkan Perempuan, Anak Perempuan dan Negara dengan Syariat

Betapa Islam dengan syariahNya telah memuliakan perempuan dengan perannya sebagai ummun wa rabbatul bait, ibu bagi anak-anak dan manager rumah tangga suaminya. Islam memposisikan perempuan dan anak sebagai pihak yang wajib ditanggung (secara ekonomi) dan dilindungi (secara sosial). Perempuan adalah kehormatan yang wajib dijaga.

Secara ekonomi kewajiban mencari nafkah ada di pundak suami/ayah bagi yang belum menikah. Meski demikian hukum bekerja bagi perempuan adalah mubah (boleh) yakni bukan karena tuntutan dan desakan ekonomi keluarga apalagi sebagai tulang punggung ekonomi negara. Bahkan negara wajib menyediakan lapangan pekerjaan bagi kepala keluarga/laki-laki.

Bagi keluarga yang lemah baik ekonomi (fakir miskin) maupun fisik (kepala keluarga yang cacat) terdapat mekanisme pos baitul maal untuk mengangkat ekonomi perempuan, anak, dan lansia. Bukan dengan pemberdayaan ekonomi-orang yang wajib ditanggung-yang berujung pada eksploitasi.

Perempuan dengan sentuhan aqidah dan kelembutan jiwa mencetak buah hatinya menjadi pribadi-pribadi unggul (syakhshiyah Islam), berjiwa kepemimpinan dan berwawasan politik Islam. Perempuan dengan tabiat alaminya di tengah masyarakat juga mampu berkonsentrasi melakukan berbagai tanggung jawab syariat untuk menghadirkan rahmat bagi alam.

Perempuan berkiprah membangun komunitas sosial yang sadar terhadap politik Islam bersama membangun masyarakat mewujudkan generasi tangguh (ummu ajyal) penyelamat dunia dari kejahatan ideologi dan institusi kufur negara adidaya (penjajah). Wallaahu a’lam bish shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories