Tragedi Nduga: Saat OPM Menolak Pembangunan dan TNI

Evakuasi jenazah korban penembakan KKB di Nduga, Papua. Foto: rol

Oleh: Rizky Jaramaya, Ronggo Astungkoro

MUSTANIR.COM, JAKARTA – Wakil Presiden RI Jusuf Kalla meminta TNI dan Polri melakukan operasi besar-besaran di Kabupaten Nduga, Papua. Hal ini ia sampaikan menyusul pembunuhan pekerja proyek pembangunan jembatan yang diduga dilakukan kelompok separatis Tentara Pembebasan Nasional/Operasi Papua Merdeka (TPN/OPM) di daerah tersebut.

“Untuk kasus ini, polisi dan TNI harus operasi besar-besaran. Karena, ini jelas masalahnya mereka yang menembak, mereka yang melanggar HAM tentunya,” ujar Jusuf Kalla di Padang, Sumatra Barat, Kamis (6/12).

Menurut Wapres, kali ini kelompok separatis telah melakukan penyerangan massal dan menghilangkan nyawa orang lain secara brutal. “Ya, sering pola seperti ini ingin lebih soft supaya jangan dituduh kita yang melanggar HAM. Padahal, ini yang melanggar HAM itu siapa? Mereka kan,” kata Jusuf Kalla.

Jusuf Kalla mengatakan, sejauh ini pemerintah masih menunggu laporan hasil evakuasi dan identifikasi korban penembakan massal di Papua.

Insiden penembakan di Nduga terjadi pada Ahad (2/12) lalu. Aksi tersebut, menurut kepolisian, dilakukan sekitar 50 orang dengan senjata modern, seperti AK47 dan M16, serta panah dan tombak.

TNI menuturkan berdasarkan keterangan penyintas, sebanyak 25 pekerja PT Istaka Karya yang bekerja membangun jembatan di Distrik Yigi dijemput anggota TPN/OPM kemudian dibawa ke Bukit Kabo dan dieksekusi di lokasi tersebut. Sebelas pekerja sempat melarikan diri, tetapi lima di antaranya tertangkap dan dihabisi dengan senjata tajam. Selain para pekerja tersebut, beberapa lainnya di lokasi yang berdekatan ikut melarikan diri.

Hingga Kamis (6/12) sore, tim TNI-Polri berhasil menemukan 16 jenazah dan sejumlah penyintas. Dari jumlah itu, aparat telah mengevakuasi delapan penyintas dan sembilan jenazah ke Timika, Papua. Para penyintas dievakuasi menggunakan pesawat helikopter TNI AD.

“Kita upayakan secepatnya (korban lainnya) dievakuasi. Yang jelas kalau malam ini cuaca sudah tidak memungkinkan, berarti menunggu besok lagi,” kata Kapendam XVII/Cendrawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi, kemarin.

Ia menambahkan, saat melakukan pengevakuasian pada siang hari, tim evakuasi mendapatkan serangan dari TPN/OPM.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Musthofa Kamal menambahkan, sebanyak 20 penyintas telah sampai di Timika. Di antara para penyintas terdapat seorang anggota Brimob, beberapa pekerja PT Istaka Karya, pekerja bangunan puskesmas dan sekolah, serta satu pekerja telekomunikasi.

Sedikitnya, 153 pasukan TNI-Polri diterjunkan ke Nduga untuk mengevakuasi dan mengejar para pelaku. Mereka dibekali kendaraan lapis baja dan helikopter. Sementara, pasukan tambahan juga terus didatangkan.

Kadiv Humas Polri Brigjen Mohammad Iqbal menyatakan, insiden penembakan di Distrik Yigi mulai meningkat selepas kedatangan pasukan TPN/OPM yang dipimpin Egianus Kogoya. “Daerah kejadian, Distrik Yigi, semula aman. Tapi, kelompok Egianus Kogoya pindah ke sana,” kata Mohammad Iqbal, kemarin.

TPN Papua Barat (TPNPB), sebutan lain dari TPN/OPM, telah mengklaim bertanggung jawab atas penembakan di Nduga. Mereka berdalih telah memantau para pekerja selama tiga bulan dan melakukan penyergapan karena yakin bahwa para pekerja merupakan anggota TNI. Hal tersebut dibantah pihak TNI maupun PT Istaka Karya.

TPNPB juga menyatakan bahwa penyerangan dipimpin Egianus Kogoya yang merupakan panglima daerah Makodap III Ndugama. Aksi di Distrik Yigi adalah yang kesekian kalinya dilakukan TPNPB di Nduga tahun ini. Pada 25 Juni lalu, menjelang pilkada serentak 2018, mereka menembaki pesawat Twin Otter Trigana Air. Tiga warga sipil juga dibunuh dalam peristiwa itu.

Pihak TPNPB mengklaim, yang mereka lakukan merupakan perlawanan atas pembangunan oleh pemerintah pusat di Nduga. Pada Juli lalu, mereka sedianya telah menantang pihak TNI-Polri untuk memburu mereka. “Engkau menurunkan pasukan banyak, kami juga punya pasukan, silakan datang,” kata Egianus Kogoya, dalam pernyataan yang dilansir TPNPB saat itu.

Tantangan itu kembali diulangi Juru Bicara TPNPB Sebby Sambom terkait pembunuhan di Nduga. “Kami tidak takut,” ujar dia saat dihubungi Republika.

Sementara itu, anggota DPD asal Papua, Charles Simaremare, berharap aparat keamanan tidak serampangan menindak pelaku penembakan. Proses terhadap para pembunuh, kata Charles, harus sesuai hukum yang berlaku.

“Jangan sampai salah tangkap, apalagi salah tembak. Jangan sampai karena terbawa emosi akhirnya serbasalah. Orang yang tidak berdosa jadi korban lagi,” kata Charles di Jakarta. []
(republika.co.id/7/12/18)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories