Simalakama Issue Khilafah

Prabowo Subianto. foto: infomenarik-terbaru.com

MUSTANIR.COM – Istilah Khilafah memang sedang viral. Padahal, terma Khilafah begitu asing di telinga umat lima tahunan yang lalu. Tapi kini, Sistem Pemerintahan warisan Rasulullah itu diperbincangkan dimana-mana. Dari pengunjung warung kopi, hingga penghuni istana negara pun membahas Khilafah.

Tak luput pula penantang incumben saat ini, Prabowo Subianto. Dalam situs berita surya.co.id (15/9), Prabowo disebut menertawakan propaganda lawan politiknya yang menyebar isu bahwa Prabowo mendukung Khilafah. Buru-buru kemudian ia menjawab bahwa itu adalah propaganda picik, berbahaya dan menyesatkan.

Isu Prabowo mendukung Khilafah memang digulirkan oleh lawan politiknya. Itu pasti. Sehingga mantan Danjen Kopassus itu harus memberikan jawaban. Ibarat simalakama, Ia terjebak dalam dua pilihan jawaban beserta konsekwensinya.

Pertama, jika Ia menjawab “Ya”, maka konsekwensinya Ia takkan dipilih oleh para nasionalis pendukung demokrasi. Ia akan dituduh ditunggangi HTI dan akan ditinggalkan oleh kaum sekuler. Para pengusaha kapitalis di belakangnya akan mundur perlahan-lahan.

Kedua, jika Ia menjawab “Tidak”, konsekwensinya akan membuat pemilih muslim akan berpikir dua kali untuk mendukungnya. Dan jawabannya jelas tidak, malah menyebut Khilafah sebagai propaganda menyesatkan bahkan berbahaya. Sebagaimana yang dimuat dalam tribunnews.com.

Meski akun resmi twitter @gerindra membantah @tribunnews dengan cuitan “Yang dikatakan sesat adalah propaganda yang mengatakan Prabowo mendukung Khilafah.”, namun dalam video wawancaranya, Prabowo jelas menolak sistem Khilafah.

Padahal, Khilafah adalah ajaran Islam. Khilafah adalah institusi penerap syariat Islam secara kaffah. Secara tak langsung, menolak Khilafah berarti menolak ajaran Islam dan menolak diterapkannya hukum Allah.

Sehingga lucu jika masih ada kaum muslim yang ingin menerapkan syariat Islam tapi mendukung calon pemimpin yang jelas-jelas tak mau menerapkan syariat. Bahkan mengorbankan dirinya untuk memenangkannya.

Karena Demokrasi memang didesain bukan untuk menerapkan syariat Islam secara kaffah. Ia diciptakan untuk memisahkan aturan agama dari kehidupan. Sementara Islam memerintahkan untuk ber-Islam secara keseluruhan.

Alhasil, inilah simalakama Demokrasi. Sebab, siapapun Penguasanya, selama Demokrasi sistemnya, maka tak akan membawa negeri pada cita-cita Baldatun Thayyibatun Wa Robbun Ghofur. Sebab, keberkahan itu hanya didapat dari Islam, dan Islam hanya bisa tegak dengan Khilafah. Wallahua’lam.[]

Oleh: Al Azizy Revolusi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories