Sepakbola & Kegagalan Sebagai Manusia

Ilustrasi. foto: Iwan Januar

MUSTANIR.COM, Jakarta – Nama anak muda malang itu Haringga. Kecintaannya pada sepakbola mengantarkannya ke sebuah pertandingan klub kesayangannya ke kandang Maung (macan) Bandung, kota rival klubnya. Naas. Di sanalah anak muda itu menemui ujung hidupnya. Puluhan suporter tim lawan, mulai dari bapak-bapak, anak muda sampai anak kecil memukulinya tanpa belas kasihan dengan balok kayu, tongkat besi, helm. Tak puas hanya membunuhnya, mereka menyeretnya dan ada yang menusuk pantatnya dengan tongkat.

Saya tak perlu melihat videonya. Tidak ingin. Cukup qola wa qila saja dari kawan-kawan saya. Saya tak ingin jadi bagian penikmat tayangan pembunuhan brutal segerombolan mahluk yang mengaku masih manusia. Tapi lebih barbar daripada binatang mana saja.

Tragedi Haringga adalah tragedi kehidupan orang-orang yang gagal jadi manusia. Bahkan binatang saja tidak demikian. Maaf, kalau saya sarkas, hewan hanya menyerang hewan lain bila mereka lapar atau mempertahankan teritorinya. Ketika mereka lapar, mereka memburu mangsa. Bila sudah kenyang, mangsa mereka tinggalkan. Ketika hewan lain yang mengusik teritorinya pergi, mereka tak mengejarnya lagi. Tak ada cerita kemudian singa atau maung mencabik-cabik mangsanya hanya untuk kesenangan, menyiksa jasad lawannya. Hidup hewan itu simpel. Struggle for survive.

Tapi mahluk dimensi apa namanya yang bisa menyiksa jasad orang yang sudah meninggal, merekam detik demi detik prosesi penyiksaan korban, lalu sebagian dari mereka membuat status di media sosial karena merasa bangga bisa menghabisi nyawa manusia? Coba, Anda sebutkan, mahluk apa yang seperti itu? Hewan? Bukan! Manusia? Harusnya juga bukan!

Ini juga bukan salah sepakbola. Sepakbola itu mestinya just for fun. Mubah, kata agama. Sama seperti bersepeda, bulutangkis, tenis meja, bahkan catur sekalipun. Tak ada masalah. Memang, keberingasan suporter tim sepakbola sudah terkenal sepanjang sejarah, baik dalam maupun luar negeri. Namun bukan sepakbola penyebabnya.

Ini adalah tragedi kemanusiaan saat manusia gagal menjadi manusia. Dalam dunia sepakbola sudah ribuan kali kasus seperti ini terjadi. Situs fourfourtwo.com Indonesia mencatat lima kerusuhan terbesar yang pernah terjadi di sepakbola Indonesia. Sebagian berujung kematian. Sebelum kejadian ini, seorang bobotoh Persib juga tewas justru di tangan sesama bobotoh. Tragisnya, saat itu korban berusaha melindungi seorang jakmania yang hampir dikeroyok massa. Namun niat baik korban berujung maut untuknya.

Daniel Goleman, dalam Emotional Intelligence, bercerita kalau otak manusia bisa mengalami pembajakan emosional. Saat manusia menghadapi situasi genting, kerapkali bagian amigdala pada otak manusia dibajak. Saat itu ia akan merespon dengan mengirim sinyal pada manusia untuk mengambil pilihan untuk survive; lari atau lawan. Orang yang sumbu pendek, akan langsung ambil tindakan yang akan disesali kemudian, melawan bahkan bisa dengan cara yang brutal. Goleman, kemudian dalam bukunya, menekankan pentingnya pengendalian emosi. Jangan terlalu cepat merespon situasi, tetap tenang agar tidak melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri juga orang lain.

Namun kondisi kekinian sudah lama mencabut akal sehat dan nilai kemanusiaan dari kehidupan manusia. Kapan itu terjadi? Saat manusia sudah meninggalkan ajaran Islam, saat itu pula mereka menuju kegagalan menjadi manusia. Dalam al-Qur’an, Allah SWT. menyebut manusia yang berpaling dari peringatanNya sebagai “syarrud dawab – seburuk-buruknya binatang” (QS. Al-Anfal: 22). Dicirikan mereka itu ‘tuli’, ‘buta’, dan tidak rasional.

Di antara kegagalan sebagai manusia, adalah menjadikan faktor primordialisme – kesukuan, kebangsaan, ketanahairan, kekelompokkan – sebagai ikatan antar mereka. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menyebut ikatan ketanahairan sebagai kemunduran, dan ikatan kesukuan sebagai ikatan yang paling rendah dalam kehidupan manusia. Dalam dunia sosial-politik, dua ikatan macam itu berpotensi melahirkan chauvinisme, arogansi sebagai satu kelompok/suku dan merendahkan kelompok/suku lain. Inilah fanatisme ekstrim satu kelompok/suku/bangsa. Hitler dengan Nazi Jermannya, Jepang dengan semangat Nipponnya adalah gambaran brutal paham chauvinisme pada Perang Dunia II. Kasus fanatisme kelompok paling gampang di tanah air, adalah tawuran antar sekolah atau antar kampung yang juga terus terjadi.

Dalam dunia sepakbola, chauvinisme ini kentara betul. Ada sebagian suporter dengan bangga menamakan dirinya ultras atau hooligan, sebagai identitas bahwa klub sepakbola bagi mereka adalah harga mati. Apalagi biasanya klub sepakbola itu lekat dengan asal daerah tertentu. Liverpool & Manchester United adalah dua klub sepakbola yang kerap memancing atmosfir permusuhan saat berduel di lapangan hijau. Gary Neville, mantan punggawa Red Devils, sebutan untuk Manchester United, berkata, “Siapapun boleh juara Liga Inggris asalkan jangan Liverpool, begitupula bagi pendukung The Reds, berlaku prinsip yang kebalikannya, siapapun boleh juara asal jangan kami.”

Namun fanatisme ekstrim macam ini dianggap jamak dalam dunia sepakbola. Bahkan diperpanas dengan slogan-slogan yang membakar fanatisme tim, malah siap mati demi kesebelasan kesayangan. Yel-yel atau lagu-lagu yang dikumandangkan pun berisi semangat fanatisme buta pada tim mereka.

Anehnya kerusuhan kerap terjadi, tapi tak ada satupun orang yang menuding kalau fanatisme ekstrim ini sebagai akar masalahnya. Maka bentrokan demi bentrokan pun dianggap percikan api kecil saja, bukan persoalan akut yang perlu penanganan serius sampai ke akarnya. Jadi, jangan heran hari ini Haringga jadi korban, besok atau lusa akan jatuh lagi korban yang lain.

Fanatisme kelompok adalah persoalan akut negeri ini, bukan saja dalam dunia sepakbola tapi dalam khasanah keislaman pun demikian. Belakangan kita sering mendengar terjadi persekusi terhadap ustadz yang beda jamaah. Mereka yang mempersekusi merasa paling nyunnah, paling Pancasila, dan paling NKRI. Sehingga berhak menghakimi orang lain. Padahal mereka juga sama-sama muslim. Ironi.

Karenanya, disadari atau tidak, negeri ini sudah mengarahkan rakyatnya untuk gagal sebagai manusia. Kehilangan akal sehat ketika melihat perbedaan suku daerah, ormas keislaman, sampai tim sepakbola. Kegagalan itu diawali dengan dicampakkannya Islam dari kehidupan sosial dan kemasyarakatan. Padahal Islam adalah agama yang berhasil melebur perbedaan antar umat manusia dalam wadah ukhuwah Islamiyyah. Islam juga satu-satunya agama yang memperlakukan umat di luar Islam dengan sebaik-baiknya. Aksi 411 dan 212 yang menghadirkan jutaan umat, berjalan damai, bahkan pasangan yang akan menikah di Katedral, Jakarta, dilayani dengan ramah oleh umat. Tanpa dipersulit sedikitpun.

Akan tetapi, hari ini Islam justru dikerdilkan hanya menjadi ritual ibadah dan akhlak belaka, tanpa diberi kesempatan mengikat seluruh umat manusia dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat. Jadi, saat kita bicara Haringga, fanatisme suporter tim sepakbola, kebrutalan mereka, ini bukan hanya persoalan sepakbola. Main bola bukanlah kutukan, bukan aib, juga bukan perbuatan haram. Tapi ini adalah persoalan besar sebuah negeri yang betah dalam atmosfir sekulerisme, dan mencampakkan Islam. Hanya Islam yang teruji telah berhasil membuat manusia jadi manusia seutuhnya.

*Ini revisi tulisan sebelumnya, karena keberadaan takbir dan tahlil saat korban dibunuh ternyata HOAX. Diduga kuat video rekaman diedit oleh kelompok yang haters pada kalimat tauhid dan dakwah Islam. Wallahu al-Musta’an
(iwanjanuar.com/25/9/18)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories