Peran Penting Ulama Dalam Mengawal Penguasa

Ilustrasi pertemuan ulama PA 212. foto: viva

MUSTANIR.COM – “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewarisi ilmu. Barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, ad-Damiri, dan Abu Dawud)

Kutipan hadist Rasulullah di atas yang sudah sangat masyhur dan tentu tak asing lagi di telinga kita selaku kaum muslim. Hadist ini juga menjadi rujukan pentingnya seorang ulama bagi ummat. Terlebih di zaman yang makin modern ini, keberadaan ulama sangatlah di perhitungkan. Ulama menjadi public vigur baik dalam hal beribadah, berdakwah, sampai ke ranah perpolitikan dan pemerintah. Segala aspek memerlukan peran ulama, karena itu adalah peran utama sebagai ulama.

Seperti yang sudah kita ketahui, tahun 2019 mendatang adalah tahun politik terpanas. Di mana pilpres kali ini para ulama dan pemuka agama menjadi sorotan para elit politik bahkan ikut terlibat di dalamnya. Para elit politik berlomba-lomba, untuk menggandeng para ulama dan ustazd-ustadz ternama. Bukan hal yang tidak mungkin, akhirnya sebagian ulama pun tergiur bujuk rayunya, namun sebagian yang lain tetap teguh di jalan dakwahnya.

Peran ulama terhadap penguasa memang sangat di perlukan. Namun kedekatan ulama dengan penguasa juga akan sangat membahayakan. Pasalnya Rasulullah juga pernah bersabda, yang artinya: “ Siapa saja yang mendatangi pintu-pintu sultan (penguasa), maka dia akan terkena fitnah dan godaan.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad). Jadi apa peran sesungguhnya para ulama saat menghadapi penguasa?

Berikut ini adalah pemaparan bagaimana seharusnya sikap seorang ulama terhadap penguasa.

Pertama, ulama harus memegang teguh Islam dan memberikan loyalitasnya hanya pada Islam meskipun nyawa menjadi taruhan. Sebagaimana yang pernah dituturkan oleh Mu’adz bin Jabal, bahwa Rasulullah bersabda: “ Perhatikanlah, sungguh Al-Qur’an dan penguasa akan terpisah. Karena itu janganlah kalian memisahkan diri dari Al-Qur’an. Perhatikanlah, akan ada para pemimpin yang memutuskan perkara untuk kalian.

Jika kalian menaati mereka, mereka menyesatkan kalian. Jika kalian membangkang kepada mereka, mereka akan membunuh kalian.” Mu’adz bin Jabal bertanya, “Ya Rasulullah apa yang harus kami lakukan?” Rasulullah menjawab, “Seperti yang di lakukan para sahabat Isa bin Maryam as. Mereka di gergaji dengan gergaji dan di gantung di atas pohon. Mati dalam ketaatan lebih baik daripada hidup dalam maksiat kepada Allah. ‘Azza wa jalla.” (HR.ath-Thabarani). Dalam hadist tersebut jelas bahwa berpegang pada Islam adalah prinsip yang paling utama.

Kedua, ulama harus senantiasa untuk mengawal kekuasaan agar berjalan di atas syariah Islam. Tentang kebijakan penguasa juga perilaku penguasa, agar tidak ada penyimpangan di dalamnya.

Ketiga, ulama juga harus menjadi garda terdepan dalam mengoreksi penguasa yang zhalim. Bersikap tegas terhadap penguasa zhalim sejatinya telah mencegah sumber kerusakan. Tetapi sebaliknya, jika ulama bersikap lemah dan lembek di hadapan penguasa atau justru malah mendukung kezaliman penguasa itu sendiri, maka secara tidak langsung dirinya telah menjadi sumber kerusakan.

Keempat, tugas ulama adalah membimbing ummat dan penguasa agar tetap berjalan di atas Islam. Jadi, sejatinya tugas ulama tidak hanya dalam urusan ibadah mahdhah saja, akan tetapi lebih dari itu, ulama mempunyai peran dan tanggung jawab besar untuk terjun ke tengah-tengah masyarakat sekaligus mengawal kekuasaan yang ada.

Kelima,ulama berperan untuk membangkitkan ummat dan menjaga kesadaran ummat agar tetap berpegang teguh pada Islam dan menghilangkan pada masyarakat pemikiran dan keyakinan yang bertentangan dengan Islam. Dan hendaknya ulama bersabar atas apa yang menimpanya baik berupa fitnah-fitnah, persekusi, penganiayaan dan bentuk ancaman lainnya. Bagaimanapun keadaannya, Islam harus tetap dipertahankan dan tetap berpegang teguh pada Islam.

Begitulah seharusnya peran penting seorang ulama dalam pandangan Islam. Maka ketika para ulama menghiasi dirinya dengan tugas, dan tanggung jawab tersebut, maka gelar ulama akan di dapat di sisi Allah bukan di sisi para penguasa yang zhalim. Keteguhan terhadap syariat-Nya adalah kunci untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi-Nya.

Wallahu’alam bishawab.

Oleh: Wida Widiawati (Member Akademi Menulis Kreatif)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories