Penerapan Syari’ah Islam Mengikis Karakter Pemimpin Egois

Ilustrasi. Foto: Radio Suara Wajar

MUSTANIR.COM – Indonesia dengan julukan Negara Agraris, tentu tak asing dengan hasil buminya. Dari sektor pertanian dan perkebunan menghasilkan banyak sekali kekayaan alam. Diantaranya padi, jagung, kedele, singkong, dan ketela. Potensi swasembada pangan ada di bumi Indonesia. Inilah bentuk Kasih Sayang Allah yang belum tentu diberikan kepada umat lain di muka ini. Bersyukurlah kita hidup di tanah Indonesia.

Maha Kasih dan Sayang Allah wajar diberikan pada penduduk negeri ini, mengingat lantunan adzan dan dzikir tetap terpelihara. Sehingga langit dan bumi dengan segala potensinya mengeluarkan keberkahan sesuai dengan Titah-Nya : ” Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah, milik-Nya semua kerajaan dan bagi-Nya ( pula ) segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu ” ( Tqs. At taghobun : 1 ).

Tak henti – henti kekisruhan terjadi di negeri ini. Terkini, Menteri Ekonomi bersama Menteri Perdagangan bersepakat mengeluarkan kebijakan impor beras. Padahal tak ada indikasi berkurangnya produktivitas dalam negeri. Bahkan gudang bulog penuh, cukup untuk memenuhi kebutuhan beras hingga akhir tahun. ( Tempo.co 9/2019 )

Sungguh ironi memang, kekayaan alam yamg berlimpah justru membutakan mata dan pendengaran penguasa. Bergandeng tangan dengan pengusaha lalu berupaya mempertahankan egonya sembari berharap keuntungan secara legal. Masukan dari bawahannya, dalam hal ini Menteri Pertanian dan Perum bulog tak lagi digubrisnya.

Ketua PBNU bidang ekonomi Umar Syah mengatakan, ” Yang terpenting adalah menurunkan ego sektoral, terutama Kementrian Perdagangan yang kerap merasa menjadi leader untuk masalah impor – ekspor dan mengabaikan Kementerian Teknis yang membidani masalah itu ” ( RMOL.co 9/2018 )

Jika kita cermati, pertunjukan impor beras ini ditambah dengan kebijakan swastanisasi Sumber Daya Alam yang telah lama berlaku, seolah – olah membawa pesan tersirat untuk rakyat, ” Jual saja tanahmu, bekerjalah menjadi jongos asing untuk membeli beras ! ” Penguasa beralih wajah, dari penjamin kemaslahatan rakyat menjadi pebisnis ulung. Sangat sempurna program pemiskinan ini. Apakah memang demikian karakter pemimpin?

Pemimpin Islam bukanlah seseorang yang hanya mementingkan keuntungan materi, lebih dari itu pemimpin Islam adalah mereka yang mampu mengelola Sumber Daya Alam yang digunakan sebagai penjamin terpenuhinya kemaslahatan rakyat. Hajat hidup rakyat dipastikan terjangkau, sebab tanggung jawab kepemimpinan akan ditanyakan oleh Sang pemilik kerajaan, Allah Swt.

Hanya dengan Islam kekayaan alam tak hanya mampu memenuhi kebutuhan hidup, bahkan bisa menjadi wasilah untuk menyempurnakan ibadah yang nilai kemanfaatannya dapat dirasa hingga kehidupan akhirat. Dengannya pula karakter pemimpin egois akan terkikis habis, tergantikan dengan karakter pemimpin yang jujur, amanah, dan dekat dengan rakyat. Mahkamah Madzalim yang ada dalam struktur negara, akan memastikan kinerja aparat pemerintahan benar – benar mempergunakan wewenangnya untuk rakyat. Mahkamah Madzalim akan menyelesaikan berbagai bentuk kedzaliman yang terjadi dari negara yang menimpa setiap orang yang hidup dibawah kekuasaannya, semisal swastanisasi Sumber Daya Alam dan impor pangan.

Sistem Kapitalisme terbukti menentang kepribadian bangsa yakni mengutamakan keadilan sosial yang tertuang dalam dasar negara Pancasila.Hanya Syariat Islamlah yang kompeten dengan identitas politik bangsa. Sehingga mengganti Sistem Kapitalisme yang merambah di tiap lini kehidupan berbangsa terutama ekonomi, bukanlah makar. Hidup dibawah Syariat Allah adalah bagian dari aspirasi rakyat yang menginginkan keberkahan hidup. Bilakah bangsa ini sadar diri ?

Aulia Rahmah, Gresik – Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories