Pahlawan Sejati: Pejuang Tauhid

Ilustrasi. foto: Kabar24

Oleh: Way Revolt

MUSTANIR.COM – “Generasi umat tidak akan membaik, melainkan dengan mengikuti konsep dan metode yang menjadikan umat terdahulu baik.” ( Al Imam Malik bin Anas Rahimahullah)

Kata pahlawan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berasal dari dua kata, bahasa sansekerta, Pahla dan Wan. Pahla berarti buah, sedangkan wan bermakna sebutan bagi orangnya (bersangkutan). Dulu gelar pahlawan diberikan kepada siapa saja yang mati di medan pertempuran baik mati karena membela bangsa dan negaranya maupun agamanya.

73 tahun yang lalu kita mengetahui bahwa telah terjadi sebuah peristiwa heroik luar biasa, tepatnya tanggal 10 November bangsa ini biasa memperingati hari Pahlawan untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan. Mereka telah mengorbankan seluruh jiwa-raga untuk membebaskan Tanah Air ini dari cengkeraman imprealisme. Beberapa dari mereka tulus berkorban demi kejayaan Islam. Mereka melakukannya semata-mata karena Allah SWT. Memang menjadi kewajiban mereka, sebagai sosok muslim, yang jika diserang musuh harus membela islam hingga menjadi syuhadah; selain karena para penjajah telah melakukan serangkaian pelecehan terhadap penerapan syariah Islam.

Sebuah niat yang sahih demi melakukan sebuah perjuangan adalah sangat penting. Apalagi untuk melakukan aktivitas yang membutuhkan pengorbanan sebuah perjuangan dengan nyawa sebagai taruhannya. Dalam peperangan, amat disayangkan jika motivasinya semata-mata hanya sekadar menghapus penjajahan atas tanah air, atas dasar semangat nasionalisme. Nasionalisme adalah ikatan semu yang mudah retak karena tidak berdasar pada pondasi yang kuat, yaitu ikatan kemaslahatan. Dan ikatan yang sahih dan langgeng hanyalah ikatan akidah.

Perjuangan seorang muslim semata-mata karena dorongan akidah Islam dan mencari keridhaan Allah SWT semata. Dia tidak berjuang membela ashobiyah, fanatisme kelompok, golongan, kesukuan, kebangsaan dan nasionalisme. Karena itu semua hanya menjadikan amal pengorbanannya sia-sia disisi Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa saja yang berperang di bawah panji kebodohan marah karena suku, atau menyeru kepada suku atau membela suku lalu terbunuh maka ia terbunuh secara jahiliyah.” (HR. Muslim)

“Bukan dari golongan kami siapa saja yang mengajak kepada ashabiyah, bukan pula dari golongan kami orang yang berperang karena ashabiyah, dan tidak juga termasuk golongan kami orang yang mati karena ashabiyah”. (HR. Abu Dawud)

Siapa lagi yang akan meneruskan perjuangan para pahlawan bangsa kalau bukan kita sebagai pemuda Indonesia?

Pahlawan sejati tidak akan membuang energi mereka untuk memikirkan apakah ia akan ditempatkan dalam sejarah manusia, atau apakah ia akan ditempatkan dalam liang lahat taman makam pahlawan. Namun yang mereka pikirkan adalah bagaimana meraih posisi paling mulia disisi Allah SWT.

Karena itulah, kita harus segera menanamkan kekuatan akidah dalam diri generasi penerus dan memahami betul bahwa pahlawan sejati adalah yang memperjuangkan Islam. Kisah Rasulullah saw. sangat menginspirasi kita bagaimana menjadi sosok pejuang Islam itu. Kita pun harus menggali kisah kepahlawanan para Sahabat yang tak pernah kering memberi kita keteladanan.

Dengan demikian, tidak ada alasan bagi kita untuk mengatakan bahwa menjadi pahlawan Islam itu sulit dan bahwa pahlawan itu sekadar pembela tanah air. Pahlawan adalah pembela bumi Allah demi terjaminnya penegakkan Syariah-Nya dengan Khilafah sebagai penjaganya. Saatnya pemuda bicara masa depan bangsa dengan syariah dan khilafah, inilah mutiara ketaladanan para pendahulu kita dalam memperjuangkan dan membebaskan negeri ini dari keterjajahan menuju pada satu penghambaan hanya kepada ALLAH SWT. Wallahu a’lam.

#BenderaTauhidSatukanUmat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories