Non Muslim Tetap Khidmat Beribadah di Katedral Saat Reuni 212

Suasana halaman parkir Katedral di Jakarta (ilustrasi). Foto: Poskota News

Oleh: Mimi Kartika, Umi Nur Fadhilah

MUSTANIR.COM, JAKARTA – Sejak Ahad (2/12) pagi, kawasan Monumen Nasional (Monas) dan sekitarnya sudah sesak oleh peserta aksi. Pada pagi hari, lalu lintas di keempat sisi Jalan Medan Merdeka sudah tersendat dipenuhi manusia. Sementara pada saat bersamaan, umat Kristiani juga harus melaksanakan ibadah pekanan mereka di Gereja Katedral Jakarta.

Dikelilingi Muslim sedemikian banyak, nyatanya kesakralan misa di katedral terbesar di Tanah Air tersebut tak terganggu. Sekretaris Seksi Pengamanan dan Tata Tertib Katedral, Albertus, mengatakan, ibadah misa berlangsung seperti biasa saat Reuni 212 berlangsung.

“Ibadah misa berlangsung seperti biasa, tidak ada hal khusus. Waktunya juga kita lakukan sesuai jadwal, yaitu pukul 06.00, 07.30, 09.00, 11.00, 17.00, dan 19.00 WIB,” kata Albertus saat ditemui Republika di halaman Gereja Katedral Jakarta, kemarin.

Pantauan Republika, jemaat terus berdatangan ke gereja yang letaknya berseberangan dengan Masjid Istiqlal tersebut. Tidak ada pengamanan khusus di sekitar Gereja Katedral Jakarta, meski sekitaran kawasan gereja juga dipadati massa Reuni 212.

Namun, Albertus mengatakan, jemaat yang hadir lebih sedikit dibandingkan biasanya. Menurut dia, hal itu lantaran sejumlah akses jalan menuju gereja tidak bisa dilalui karena digunakan untuk parkir sejumlah kendaraan. Ia mengatakan, jemaat tidak hanya dari warga Jakarta, melainkan dari sejumlah daerah di Tangerang, Depok, Bogor, Bekasi, dan kota lainnya.

“Mereka hari ini kebanyakan pakai angkutan umum karena akses jalan ke gereja ditutup dan dialihkan. Kalau Ahad pukul 09.00 (WIB) sampai luar juga ada (jamaah), tetapi ini berkurang dari biasanya,” kata dia.

Seorang jemaat asal Bogor, Vivin (22), mengatakan, harus berjalan kaki dari Stasiun Juanda ke Gereja Katedral. Perjalanan itu biasanya ia tempuh menggunakan ojek daring.

Meski begitu, ia menekankan, ibadah misa tetap berlangsung secara khidmat. “Ada Reuni 212 tidak masalah, kami masih bisa ibadah di sini, tadi ibadah juga seperti biasanya saja. Khidmat, tenang,” kata Vivin.

Hal senada diungkapkan James (26), jemaat asal Tangerang. Ia mengatakan, meski Reuni 212, tapi pelaksanaan ibadah misa berjalan khidmat. Menurut dia, kegiatan di Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral kerap berbarengan, kendati demikian masing-masing ibadah masih tetap terlaksana dengan baik.

“Tidak ada masalah sama ibadahnya, tidak ada gangguan sama sekali kok. Kalau soal macet akses ke sini harusnya bisa diantisipasi,” kata James.

Sebelumnya, pada Sabtu (1/12) malam, Sejumlah tokoh agama Kristiani sudah mengapresiasi Reuni 212. “Acara nuansa kebangsaan dan kedamaian memberikan jawaban bahwa kami (non-Muslim) tak perlu takut,” kata perwakilan Komunitas Kristen Katolik Indonesia, Pendeta Butje Sewu, di Hotel Alia Cikini, Jakarta Pusat.

Dia mengatakan, berdasarkan penjelasan yang diterima dari panitia, Reuni 212 mengusung tema masalah persaudaraan dan kebangsaan. Tema tersebut praktis menghilangkan rasa takut dan tak nyaman menjadi kaum minoritas di Indonesia.

“Seolah acara ini mareda ketakutan untuk agama Kristen dan yang lain. Karena berkumpul umat yang begitu banyak,” ujar Pendeta Butje.

Dia menganggap, adanya tempat yang disediakan untuk non-Muslim dalam acara Reuni 212 menunjukkan masyarakat masih satu bangsa dan negara yang mencintai Tanah Air. “Kami sangat senang, doa kami terjawab supaya Indonesia tetap aman dan damai, tak ada anarkisme kekerasan,” kata dia.

Perwakilan dari Gereja Orahua Niha Keriso Protestan (ONKP) Pendeta Etika Hia juga mengatakan tema yang diusung Reuni 212 tergolong universal. “Acara ini doa untuk bangsa, untuk kemanusiaan yang adil dan beradab,” ujar dia.

Menurut dia, acara Reuni 212 bisa menjadi bukti bahwa Indonesia masih milik bersama dan terbingkai dalam NKRI. Otomatis, hal itu menghilangkan rasa waswas, takut sebagai kaum minoritas.

Sementara di seantero lokasi aksi, suasana tertib memang tampak. Dari pantauan Republika, tidak tampak banyak aparat berseragam yang melakukan penjagaan ekstra di luar Monas. Sesekali tampak polisi lalu lintas turut mengarahkan massa untuk mencari jalan keluar untuk pulang, maupun massa yang baru datang ke lokasi.

Jumlah polisi berseragam yang tampak signifikan hanya di sekitar panggung utama di Monumen Nasional. Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi Idham Azis juga tampak turut memantau di pagi hari dari tenda pengamanan yang ditempatkan di dekat panggung utama, Monas.

Akhirnya, pada pukul 10.00 WIB massa mulai membubarkan diri. Bubarnya massa ditandai dengan berakhirnya orasi dari sejumlah tokoh yang hadir. Massa yang membubarkan diri pun sempat berpapasan dengan massa yang baru hadir.

Hal itu terjadi di Tugu Tani dan Jalan Kebon Sirih. Namun, dengan pengaturan sejumlah koordinator massa melalui pengeras suara dan bantuan sejumlah polisi lalu lintas, situasi tetap berjalan tertib dengan pembagian jalur bagi yang baru hadir.

Sementara, personel TNI yang berada di lokasi pun menyatakan, tidak mendapati gangguan dalam aksi tersebut. “Kami stand by saja, nanti kalau ada kebutuhan, kami siap,” kata personel TNI yang berjaga di kawasan Balai Kota, Deni Ahmad. []

(republika.co.id/3/12/18)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories