Mengejutkan, 1 SMP Di Medan 12 Siswinya Hamil

MUSTANIR.COM – Dunia pendidikan di era kini menjadi sorotan, khususnya para pemerhati generasi muda bangsa.

Seperti yang diungkapkan Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Lampung, Dwi Hafsah Handayani ini.

Dwi Hafsah mengatakan ada kejadian di mana salah satu SMP di Lampung, ada 12 siswinya yang hamil.

Siswi tersebut terdiri dari kelas VII, VIII, IX.

Hafsah mengatakan, ia mendapat informasi dari masyarakat bahwa di sekolah tersebut ada kejadian luar biasa.

“Sekolah bilang bersih. Tapi, cek di guru BK ternyata ada muridnya yang hamil,” katanya sebagaimana dikutip dari TribunLampung.co.id.

“Mereka ada yang sudah dinikahkan oleh orangtuanya, lainnya kami belum tahu pasti. Nanti kalau sudah ada info detailnya saya, kasih tahu,” lanjut Hafsah.

Dia juga menerangkan, sekolah pada dasarnya memegang peranan penting dalam memberikan edukasi tentang kesehatan reproduksi (kespro) kepada siswanya dan untuk mencegah pergaulan bebas.

Menurutnya, fokusnya bukan hanya pada kejadian tindakan asusila, tetapi upaya pencegahan.

Dia menyatakan, pihaknya telah menyelenggarakan program konseling kespro.

Programnya bukan hanya memberikan buku, tetapi juga mengajari guru cara mentransfer isi buku tersebut kepada siswanya.

Program ini telah berjalan sejak Agustus lalu di Bandar Lampung, yaitu di SMPN 13, SMPN 22, dan SMPN 25.

Sementara itu, di luar sekolah, pihaknya bekerja sama dengan pelayanan anak terpadu berbasis masyarakat (PATBM).

Caranya adalah dengan memberikan edukasi terhadap komunitas yang juga berfokus dalam masalah tersebut.

Kejadian siswi hamil sebelumnya pernah terjadi di sebuah SMK di Makassar dan di beberapa sekolah lainnya di Tanah Air.

Yang lebih mencengangkan, siswi tersebut melahirkan di toilet sekolah saat kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung, Kamis (18/1/2018) lalu.

Melansir Tribunnews.com, warga Kabupaten Gowa tersebut ternyata melahirkan bayi bukan karena hubungan gelap, tetapi karena pemerkosaan.

Sementara pria berinisial B yang merupakan pelaku pemerkosaan telah ditangkap pada Sabtu (20/1/2018) lalu saat makan coto di jalan Gagak Makassar.

Nah, pergaulan bebas di kalangan remaja yang menjurus pada perilaku seks bebas ini, harus disikapi serius dan diwaspadai para orang tua.

Temuan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Lampung ini ternyata bukan hanya soal kehamilan 12 remaja SMP di satu sekolah.

PKBI Lampung juga menemukan fenomena penggunaan jasa Pekerja Seks Komersial (PSK) oleh siswa yang duduk di bangku SMA.

Koordinator Pencegahan HIV PKBI Lampung, Rachmat Cahya Aji menambahkan, pengetahuan pelajar tentang kesehatan reproduksi masih minim. Di sisi lain, pendidikan seks masih dianggap tabu.

“Sehingga banyak remaja tidak mengetahui akibat dari perilaku seks yang berisiko, yang mengakibatkan kehamilan yang tidak diinginkan,” ujarnya.

Pantauan PKBI, persoalan kehamilan yang tidak diinginkan di kalangan pelajar, terjadi merata, baik sekolah-sekolah yang ada di Kota Bandar Lampung maupun di kabupaten/kota lainnya.

“Hampir di setiap sekolah ada persoalan kehamilan di luar nikah tadi. Bahkan, beberapa kasus terjadi di SMP,” ujarnya.

Aji menyampaikan, ada satu sekolah yang dalam dua tahun hanya ada satu kasus kehamilan di luar nikah.

Namun ada juga, satu sekolah dalam satu tahun ada sepuluh kasus kehamilan tidak diinginkan.

“Ada sekolah yang dalam lima tahun terakhir tidak ada kasus kehamilan yang tidak diinginkan. Kasus 10 siswi SMA hamil itu terjadi pada 2016, itu terjadi di salah satu SMA,” jelasnya.

Para pelajar tersebut, terus Aji, umumnya hamil dengan pacarnya.

Pacarnya tersebut, ada yang masih berstatus pelajar, ada juga yang sedang kuliah.

“Para pelajar yang mengalami kehamilan tak diinginkan ini rata-rata dipaksa menikah sama orangtuanya. Meski kemungkinan ada juga yang terpaksa aborsi,” ujarnya.

Beberapa pelajar yang hamil itu, kata Aji, ada yang melakukan konseling ke PKBI dengan didampingi orangtua mereka.

“Bahkan sekarang itu, banyak pelajar SMA yang ke lokalisasi. Bahkan, 20 persen pelanggan pekerja seks itu adalah pelajar SMP dan SMA.

Jadi dari 10 pelanggan seorang pekerja seks, itu 2 orang di antaranya adalah pelajar.

“Mereka itu awalnya ingin coba-coba, tahu dari teman, sampai ada yang langganan meski jarang-jarang. Bahkan, ada pelajar yang pacaran sama pekerja seks,” kata dia.

Aji meneruskan, para pelajar itu umumnya memakai pekerja seks yang sudah relatif berumur.

Sebab, pekerja seks yang berusia muda, tarifnya mahal dan kurang terjangkau sama pelajar.

“Tarifnya sekitar Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta ke atas, namun bisa negosiasi,”ungkapnya.

Menurut Aji, ada beberapa pelanggan ini yang akhirnya terkena penyakit kelamin seperti spilis dan kencing nanah.

Ketua Komnas Perlindungan Anak Lampung, Toni Fiser mengaku prihatin atas kondisi tersebut. Ia pun kaget atas temuan tersebut.

Diakuinya, kasus kekerasan terhadap anak, termasuk hamil di usia anak terus meningkat dari tahun ke tahun.

“Sedih, berarti ada kurang pengawasan dari orangtuanya karena sumber masalah anak kan dari rumah. Periode September 2018 sudah ada 5 kasus serupa yang masuk, padahal tahun lalu hanya dua kasus. Ini butuh peran semua pihak terutama orangtua. Tapi kita jadikan ini untuk rehabilitasi bukan sebagai kasus,” kata Toni.

“Akan lebih miris lagi, jika kondisi 12 siswi SMP yang hamil itu korban dari orang dewasa. Artinya, kondisi kurang nyaman dari orangtua membuat anak mencari kenyamanan di luar, antara lain dengan pasangan atau pacarnya,” lanjut Toni.

Ujungnya, katanya, terjadi hal-hal yang melampaui batas seperti hamilnya sang anak yang sejatinya masih usia dini.

“Terlebih keberadaan gadget dan mudahnya mengakses berbagai informasi seperti saat ini. Saya juga baru mendapat konseling dua remaja SMA berpacaran, sama-sama dari keluarga brokenhome. Cari kenyamanan di luar dan kemudian hamil,” bebernya.

Secara nasional, sepanjang 2017, kasus kekerasan terhadap anak tercatat 317 kasus.

Pada 2018, sampai September 2018, angka tahun lalu tersebut sudah terlampaui.

“Yang tertinggi kasus bullying, selain itu ya kondisi anak hamil,” ujar Toni.

Dikatakan Toni, orangtua perlu mengajak anak berbicara dan punya waktu bersama.

Bukan sekadar memenuhi kebutuhan finansial anak.

“Punya waktu bareng anak di jam 6 sore sampai 9 malam. Melakukan 3B, belajar, bicara, bermain. Itu perlu untuk melihat perkembangan anak, ” kata dia.
(tribunnews.com/03/10/2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories