Mengapa AS dan NATO Menggunakan Afghanistan Sebagai Koridor Militer Mereka?

Ilustrasi. foto: mediaumat

MUSTANIR.COM – Kementerian Pertahanan Afghanistan mengatakan, “ISIS dan kelompok-kelompok teroris lainnya selalu berusaha memperluas cakupan kegiatan mereka dan mengancam kawasan ini dan dunia.”

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Inggris selama kunjungannya ke Afghanistan, telah mengatakan bahwa kelompok-kelompok teroris telah mengancam Inggris dan negara-negara Eropa lainnya dari wilayah itu. Jenderal Scott Miller, selama upacara yang menandai pergantian komando di Kabul, juga mengatakan bahwa, “Tekanan harus dilanjutkan kepada kelompok-kelompok teroris untuk memastikan bahwa mereka tidak akan menggunakan Afghanistan sebagai ancaman bagi dunia.” Di sisi lain, Hamdullah Mohib , Penasihat Keamanan Nasional, juga menyatakan pada upacara yang sama, saat berbicara kepada Jenderal Miller, “Kami berdiri bersama Anda bahu-membahu dalam perjuangan bagi kebebasan berbicara dan melawan ketidakadilan. Kami, bersama-sama, akan memberantas pemberontakan dan terorisme di Afghanistan dan kawasan ini. “(Ref: Radio Azadi)

Komentar

Sungguh aneh bagaimana penguasa boneka itu dan tuan-tuan mereka meramu pembenaran yang berbeda bagi berlanjutnya perang di Afghanistan sementara pada saat yang sama, mereka membangkitkan slogan-slogan perdamaian dan negosiasi dengan Taliban untuk menipu opini publik, dan bahkan menunda parlemen, dewan provinsi, dewan distrik dan bahkan pemilihan presiden.

Sudah sekitar setahun sejak diumumkannya strategi Trump di Afghanistan, kaum Muslim Afghanistan tidak mendapatkan apapun selain pemboman, serangan pesawat-pesawat tak berawak AS dan serangan teror bertarget. Hasil dari strategi ini, jumlah korban sipil memuncak pada bulan Agustus saja 800 orang tewas dan terluka.

Angka ini menunjukkan peningkatan jumlah korban secara dramatis dari bulan Juli dan bahkan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, terutama tahun 2017. Selama tahun lalu, lebih dari 5000 bom, termasuk yang dikenal sebagai ‘mother of all bombs’, dijatuhkan oleh pasukan pendudukan pada kaum Muslim penduduk Afghanistan. Teror dan ketakutan yang ditimbulkan ini berarti bahwa AS dan NATO sedang memerangi kaum Muslim di wilayah itu bersama dengan pasukan penjajah lainnya, yaitu China dan Rusia.

Gedung Putih dan Kongres AS baru-baru ini membahas penyerahan perang Afghanistan kepada perusahaan-perusahaan keamanan swasta, seperti Black Water, sehingga keterbatasan yang dialami oleh pemerintah AS dalam kaitannya dengan tindakan terornya dalam perang ini dapat dilakukan oleh tentara bayaran dan perusahaan-perusahaan swasta.

Meskipun, para politisi AS, para pejabat militer dan NATO menafsirkan “kelompok teroris” sebagai pembenaran dan alasan atas perang mereka, namun kadang-kadang mereka juga mengungkapkan tujuan jahat mereka. Seperti baru-baru ini, Jendral John Nicholson, mantan komandan Misi Dukungan Militer dan Misi Resolute di Afghanistan, dalam wawancara dengan Voice of America (VOA), mengatakan, “Kami tahu bahwa Rusia berusaha untuk melemahkan prestasi militer dan tahun-tahun kemajuan militer di Afghanistan ”. Dia juga menambahkan, “Tidak dapat disembunyikan bahwa Rusia mencari peluang untuk menciptakan kesenjangan antara AS dan mitranya di Asia Tengah, termasuk Afghanistan.”

Sebelumnya, AS berulang kali menuduh para pejabat Rusia menyediakan senjata kepada Taliban – tuduhan yang selalu ditolak oleh Rusia meskipun Rusia tidak pernah menolak hubungan politiknya dengan Taliban.

Dengan demikian, “kelompok-kelompok militan” adalah pembenaran dan alasan yang mereka buat, sementara dalam kenyataannya AS dan NATO berdiri berdampingan untuk mencegah munculnya negara yang sesungguhnya bagi umat Islam di wilayah tersebut, dengan kepungan China dan Rusia, dan menjarah sumber daya Afghanistan dan negara-negara Asia Tengah lainnya. Untuk melanjutkan keberadaan militer dan politik mereka di wilayah ini, mereka berusaha untuk mengangkat dan membantu kelompok-kelompok oposisi bersenjata yang dianggap sebagai ancaman bagi mereka.

Scott Miller, komandan Misi Resolute di Afghanistan, baru-baru ini menyebutkan pembunuhan terhadap seorang tentara AS yang juga melukai seorang lain sebagai ‘tragedi’ yang menyatakan bahwa para tentara ini telah datang ke Afghanistan untuk melindungi negara mereka. Kalimat ini “melindungi negara mereka” adalah pembenaran palsu yang mereka buat dimana mereka ingin menyesatkan negara-negara Amerika dan Barat sementara pada kenyataannya, para tentara itu datang ke Afghanistan untuk melanjutkan pendudukan dan penjajahan atas negara-negara Asia Tengah.

Semua ini terjadi pada saat Rusia telah menjadwalkan untuk mengadakan pertemuan pada tanggal 4 September antara Afghanistan, Taliban, AS dan sejumlah negara lain. Namun pertemuan itu ditunda setelah Presiden Ashraf Ghani menolak undangan untuk menghadiri pertemuan tersebut.

Setelah 18 tahun pendudukan brutal atas Afghanistan, AS tampaknya, menyatakan dirinya seolah-olah masih di awal perang. Hal itu karena proses pemilu demokratis berubah menjadi tindakan keji. Karena lebih dari setengah wilayah Afghanistan berada di bawah kendali Taliban. Proses perdamaian berjalan hanya namanya saja dan dengan propaganda. Para pemimpin berpengaruh di Afghanistan benar-benar muak dengan proses pemerintahan Ashraf Ghani dan kebijakan AS bagi reformasi pemerintah.

Mereka menunjukkan kemarahan mereka setiap hari dan menawarkan solusi yang gagal, seperti Konferensi Bonn Ketiga, Loya Jirga, dan pembentukan pemerintah sementara hingga pembicaraan damai dengan Taliban selesai, amandemen konstitusi dan pemerintah yang dapat mengambil tanggung jawab menyelenggarakan pemilu yang adil dan bebas. Sementara, narkoba, korupsi, pengangguran, kemiskinan, ketidakamanan, penculikan, dan tindakan cabul di masyarakat telah berkembang secara besar-besaran.

Namun, AS mungkin membawa sejumlah orang Taliban ke meja perundingan melalui proses perdamaian, sementara yang lain akan terus memerangi pendudukan. Kegiatan ISIS di Afghanistan sengaja dibesar-besarkan oleh pemerintah dan Amerika, dan bahkan mereka sekarang berbicara tentang kembalinya Al-Qaeda. Dengan demikian, AS dan NATO masih memainkan permainan kotor yang sama yang telah mereka lakukan pada tahun 2001. Oleh karena itu, situasi Afghanistan dapat ditafsirkan tidak lebih dari proyek perang AS-NATO, narkoba, perluasan koridor militer AS ke Asia Tengah dan pembatasan pengaruh China dan Rusia.

Akibatnya, rakyat Afghanistan tidak pernah bisa mendapatkan harapan mereka seperti perdamaian, keamanan, kemakmuran, keadilan dan pembebasan negara masih dalam bayang-bayang teror dan pendudukan yang terus berlangsung. Oleh karena itu, semua oposisi bersenjata dan oposisi politik dari sistem Amerika di Afghanistan yang mengkaitkan diri mereka dengan Islam dan kaum Muslim harus memahami bahwa mereka tidak dapat mengatasi pendudukan dan kolonialisme Barat hanya dengan berperang dan menerapkan kebijakan-kebijakan pragmatis. Mereka harus meningkatkan kesadaran politik mereka berdasarkan Islam.

Mereka harus bersatu dan memikirkan secara mendalam dan intelektual dalam memahami solusi Islam ideologis sebagai pilihan bagi kebijakan pragmatis. Pertama, mereka harus meninggalkan perjanjian strategis dan keamanan dengan AS dan NATO, lalu dengan menggunakan sumber daya umat Islam, mereka harus berjuang melawan pendudukan dan kolonialisme untuk mengusir musuh dan mendirikan Daulah Islam yang sesungguhnya bersama-sama dengan kaum Muslim di wilayah itu yang semata-mata berdasarkan ideologi Islam, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Ini hanya mungkin dilakukan jika kita membantu Agama Allah (Swt) dan, sesungguhnya, sebagai balasannya Allah (Swt) akan menolong kita. Sebagaimana firman Allah (Swt):

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (Agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
(Terjemahan QS Muhammad : 7)

Ditulis untuk Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir oleh Saifullah Mustanir

(mediaumat.news/17/9/18)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories