“Kami Juga Manusia”: Perjalanan Pengungsi Rohingya Sampai ke Indonesia

Pengungsi Rohingya. foto: Media Indonesia

MUSTANIR.COM, Surabaya – Arfat mengingat bagaimana awalnya ia bisa menginjakkan kaki di Indonesia pada awal 2013 lalu. “Mereka tangkap pemuda-pemuda. Terus beberapa orang saudara kita sudah ditangkap, ditutup matanya, dibawa, sampai sekarang gak ada kabar,” ujar Arfat kepadaku di tengah teriknya matahari Kota Sidoarjo.

Pemuda Rohingya berusia 21 tahun itu merujuk kepada kebrutalan militer Myanmar terhadap masyarakat Muslim di Rakhine. “Para orangtua berkata ‘kamu keluar saja [dari Myanmar] biar selamat’. Akhirnya saya keluar dengan teman-teman naik kapal. Keluar dari Myanmar gak ada tujuan mau ke mana.”

Sekitar 23 hari kemudian–setelah terombang-ambing di laut, sempat dua kali ditangkap militer Thailand lalu diancam dengan senjata, merasakan haus dan lapar di bawah guyuran hujan–Arfat dan 130 orang etnis Rohingya yang berada dalam satu perjalanan dengannya sampai di Aceh.

1. Ribuan orang Rohingya terpaksa menempuh perjalanan berbahaya demi menyelamatkan diri

Meski menjadi pembicaraan hingga ke berbagai forum resmi, termasuk Dewan Keamanan PBB, tapi komunitas internasional tampak belum menggerakkan kaki dan tangan untuk menyelesaikan krisis di Rakhine. Sementara itu, warga Rohingya pun terpaksa menempuh perjalanan laut penuh bahaya agar bisa keluar dari Myanmar.

Berdasarkan data badan pengungsi dunia UNHCR, per 2016 lalu ada 795 pengungsi Rohingya yang berada di Indonesia. Kemudian, ada 244 yang masih menunggu penetapan status atau dengan kata lain merupakan pencari suaka. Mayoritas dari mereka ada di Indonesia usai mengarungi laut dengan kapal-kapal seadanya.

Salah satu kedatangan terbaru terjadi pada April lalu ketika nelayan Indonesia menyelamatkan lima pengungsi Rohingya dan membawa mereka ke Aceh. Beberapa hari berselang, nelayan kembali menyelamatkan kapal berisi 79 pengungsi Rohingya. Di antara mereka adalah 12 perempuan dan 36 anak-anak.

2. Selama perjalanan mereka menghadapi penolakan otoritas negara transit

Saat di laut pun, mereka menghadapi ancaman luar biasa. Ro Shofiqul Islam, 24 tahun, mengingatnya dengan baik. Ia dan Arfat meninggalkan Rakhine dalam waktu bersamaan dengan satu kapal mengatakan bahwa mereka ditangkap oleh polisi air Thailand, kemudian ditinggalkan begitu saja di tengah laut tanpa makanan, minuman, maupun bahan bakar.

“Ketika kita sampai di Thailand, ketemu sama polisi Thailand yang jaga perbatasan, lalu mereka tangkap [kami], ditahan satu malam satu hari,” ucap Arfat dalam bahasa Indonesia yang cukup lancar. Ia pun berulang kali menyebut “kapal bergambar ular kobra” milik militer Thailand yang menyeret satu-satunya alat transportasi mereka di lautan pada percobaan pertama.

“Mereka ikat kapal kami, terus mereka tarik dua hari dua malam, jalan, langsung dibuang ke laut yang berbahaya,” tambahnya tanpa mengingat lokasi pastinya sebab ia sudah ketakutan. Dua hari berada di laut, Shofiqul yang kini tinggal di Makassar menyebut ada nelayan Thailand memberikan mereka dayung. Dengan itu, mereka kembali mencapai teritori Thailand.

3. UNHCR mengingatkan negara agar tak menolak pengungsi yang datang dengan kapal

Walau sudah menginjakkan kaki di daratan Thailand, tapi militer yang menemukan mereka lagi malah memaksa kembali ke tengah laut. Padahal, menurut pengakuan Shofiqul, kondisi kapal sudah berlubang akibat dirajam peluru-peluru militer Thailand. “Kapal pun tenggelam dan 12 orang meninggal,” ungkap Shofiqul.

Militer Thailand pun membawa mereka naik ke kapal angkatan laut, tapi Shofiqul mengaku di situ juga mendapat perlakuan sangat buruk. “Mereka menghajar kami habis-habisan dan tangan kami diikat di belakang.” Arfat sendiri heran dengan sikap mereka. “Kami ini manusia. Apa begitu cara memperlakukan manusia?”

Lima jam kemudian, Arfat, Shofiqul dan pengungsi Rohingya yang tersisa dipindahkan ke kapal baru, lalu ditarik ke laut bebas, ditinggalkan, hingga akhirnya ditemukan oleh nelayan Aceh.

UNHCR pun menyuarakan kekhawatiran terhadap praktik yang diambil oleh Thailand, salah satunya ketika pada insiden April 2018. Dalam sebuah pernyataan resmi, UNHCR mengingatkan jika pengungsi “ditemukan sedang dalam keadaan susah” sebaiknya “mereka diselamatkan dan diizinkan meninggalkan kapal sesuai dengan hukum maritim internasional”.

4. Indonesia menyanggupi permintaan UNHCR dengan membuat peraturan baru

Catatan Indonesia dalam menangani kedatangan pengungsi Rohingya sebenarnya juga tidak selalu terpuji di mata dunia. Pada Mei 2015 lalu terjadi eksodus ribuan pengungsi yang datang dari Myanmar menggunakan kapal.

Setelah ditolak oleh angkatan laut Thailand, mereka tiba di kawasan dekat perairan Indonesia. Ratusan diyakini meninggal dalam perjalanan itu.

Respons awal Indonesia tidak berbeda dengan Thailand.

“Kami memutuskan memberi mereka bahan bakar dan makanan yang cukup agar bisa sampai ke tujuan, yaitu Malaysia. Mereka tak seharusnya memasuki perairan Indonesia tanpa izin kami,” kata Mayjen M. Fuad Basya, juru bicara TNI saat itu.

Media internasional pun menyoroti langkah yang malah jadi bumerang tersebut. Kejadian ini mendorong pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Presiden tentang Penanganan Pengungsi dari Luar Negeri pada 2017 lalu.

Salah satu isinya adalah dengan tegas mewajibkan otoritas terkait, misalnya angkatan laut, untuk melakukan pencarian dan pertolongan terhadap para pengungsi ketika sampai di perairan Indonesia dengan kondisi kapal rusak.

5. Hanya saja, Indonesia tak menandatangani Konvensi Pengungsi 1951

Arfat dan Shofiqul sendiri mengaku cukup beruntung kala itu tidak ditolak masuk ke wilayah Indonesia. Hanya saja, Arfat menyayangkan apa yang menimpanya setelah dipindahkan dari Aceh.

“Saya ditahan dua tahun di Manado. Kalau umurnya dari 18 tahun ke bawah kan gak ada hukuman. Saya waktu itu 16 tahun tapi tetap ditahan. Gimana itu?” kata dia. Shofiqul sendiri butuh waktu kira-kira satu tahun sebelum akhirnya keluar dari Rumah Detensi pada 2014. Tak banyak yang mereka bisa lakukan dalam penantian.

Achsanul Habib, Direktur HAM dan Kemanusiaan di Kementerian Luar Negeri, mengatakan, “Yang paling penting dalam pengungsian, terutama di Indonesia, ancaman mendasar, kebutuhan mendasar, itu semua kan sudah ditangani. Mereka tidak kelaparan. Mereka tidak mendapat ancaman persekusi. Itu yang dilakukan Indonesia sebagai negara transit.”

6. Pengungsi Rohingya menunggu penyelesaian krisis di Rakhine

Arfat sendiri sadar Indonesia tidak akan memberinya kewarganegaraan. Di sisi lain, ia juga meragukan bisa kembali ke Myanmar, terutama karena kepemimpinan Aung San Suu Kyi. Pemimpin de facto Myanmar itu, kata Arfat, “tidak berani” melawan militer karena kepentingan kekuasaan.

Arfat pu n yakin Aung San Suu Kyi “merasa malu” karena tidak bisa menjalankan otoritas moralnya sebagai pemenang Nobel Perdamaian. “Dia gak ngomong jelas [soal krisis Rohingya] karena takut sama tentara.”

Tanpa ragu Arfat berkata, “Apa yang terjadi di Myanmar adalah genosida.”

Tim Pencari Fakta PBB pun sudah mengatakan militer Myanmar melakukan “kejahatan terburuk dalam hukum internasional”. Tim yang dipimpin Marzuki Darusman itu meminta Dewan Keamanan untuk membawa petinggi-petinggi militer Myanmar ke Pengadilan Pidana Internasional. Sejauh ini, proses itu tampak sangat jauh untuk diwujudkan.

7. Sementara itu, pengungsi Rohingya bertanya-tanya kapan akan mendapatkan hak sebagai manusia

Walau hidup dalam ketidakpastian, ditambah lagi keluarga mereka juga menjadi pengungsi di Bangladesh, tapi ada satu karakteristik yang menonjol dari Arfat dan Shofiqul. Mereka sangat tangguh dan optimis bahwa suatu saat kehidupan akan lebih baik.

Misalnya, Shofiqul. Sembari menanti keberangkatan ke negara ketiga, ia menyibukkan diri dengan ikut kursus bahasa Inggris dan mengoperasikan excavator. Ia yakin kemampuan tersebut akan berguna saat mencari kerja di negara ketiga nanti.

Alasan para pengungsi Rohingya menjalani berbagai perjuangan berliku itu barangkali bisa dipahami melalui impian Shofiqul. “Setelah hidup sejak kecil di tengah persekusi, aku berharap memiliki hidup yang lebih baik, terutama ketika sudah pindah ke negara yang menghormati hakku sebagai orang rentan.”
(idntimes.com/24/9/18)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories