Jasa Besar Para Ilmuwan Muslim Bagi Dunia

Seif Islam, penjaga perpustakaan kuno di Kota Chinguetti, Mauritania. foto: republika

MUSTANIR.COM – Di masa keemasannya pada abad 8-13 M, wilayah ke khalifahan Islam membentang luas dari Asia hingga Spanyol. Robin Westgate dalam artikel berjudul “Ancient Arab Astronomy” menuliskan, ulama dan ilmuwan Arab pada masa itu mengetahui lebih banyak sains dan ilmu-ilmu sastra daripada tokoh-tokoh kontemporer mana pun. Mereka juga banyak menerjemahkan karya-karya sastra dan ilmiah klasik (Yunani- Romawi).

Kekhalifahan Islam yang pernah menikmati puncak kejayaan di bidang sains dan teknologi itu adalah Khilafah Abbasiyah (750–1258 M). Dan, khalifah pertama yang memberikan perhatian besar terhadap astronomi adalah Khalifah Abu Ja’far Abdullah ibn Muhammad al-Mansur (khalifah kedua Abbasiyah, wafat 775 M). Ia mengalokasikan dana yang sangat besar untuk proyek penerjemahan karyakarya astronomi dari periode klasik (Yunani-Romawi).

Al-Razi (abad 9), Ibnu Sina (abad 10), dan Ibnu Rushd/Averroes (1126- 1198) adalah sedikit di antara filsuf Muslim yang paling dikenal kala itu. Upaya mereka dalam mendalami gagasan dan pemikiran tokoh-tokoh klasik Yunani, seperti Plato dan Aristoteles, dinilai sebagai upaya mere kon siliasi gagasan-gagasan Yunani klasik dengan ajaran Islam.

Hasilnya, banyak universitas didirikan di kota-kota terkemuka Islam, seperti Baghdad, Damaskus, Yerusa lem, Alexandria, Kairo, dan Cordoba. Bisnis buku berkembang pesat mengingat perpustakaan-perpustakaan besar dapat ditemukan di universitas-universitas, istana, dan rumah-rumah orang kaya pada masa itu.

Pada masa itu, ilmuwan Eropa menyadari keunggulan ilmiah dan teknologi dunia Islam yang luar biasa sehingga mereka berupaya mencari terjemahan karya ilmuwan Muslim. Pada 1250 M, sebagian besar materi berharga di perpustakaan-perpustakaan Islam telah tersedia bagi para ilmuwan Eropa dalam bentuk terjemahan.

Selanjutnya, para ilmuwan Muslim membuat kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan banyak ilmu modern, seperti fisika, kimia, kedokteran, matematika, dan juga astronomi. Dan, mereka sangat tertarik pada bidang ilmu yang terakhir disebut itu.

Menggunakan karya astronom Yunani abad kedua Ptolemy (Ptolema eus) sebagai dasar, para pemikir Mus lim meningkatkan pengetahuan manusia tentang astronomi. Bahkan konon, selama abad pertengahan, ketika ilmu pengetahuan Eropa meng alami kemerosotan, orang Arablah yang menjaga dan meles tarikan warisan para astronom klasik tersebut.

Atas perhatian mereka yang tinggi terhadap astronomi, mereka membangun banyak observatorium dan meningkatkan instrumen ukur tertentu seperti astrolabe untuk menentukan dan merekam posisi serta gerakan benda langit. Salah satunya adalah Rumah Ilmu Pengetahuan yang dibangun di Baghdad oleh Khalifah Abbasiyah Ma’mun ar- Rasyid antara 813-833 M.

Di sanalah para ilmuwan Islam menerjemahkan banyak teks berbahasa Sansekerta, Pahlavi atau Persia kuno, Yunani, dan Syriac ke dalam bahasa Arab. Termasuk di antaranya tabel astronomi besar berbahasa Sansekerta dan risalah astronomi Ptolemy, Almagest.

Al-Khawarizmi adalah salah satu contoh ilmuwan penting pada masa ini. Risalah matematikanya adalah yang pertama memperkenalkan konsep “nol” penyederhana perkalian dan pembagian. Ia juga menyumbang sebuah perhitungan sistematis dari aljabar dan geo metri untuk me mecahkan mas alah astronomi dan navigasi praktis.

Di antara peninggalan penting para ilmuwan Muslim adalah namanama Arab untuk sejumlah istilah astronomi yang digunakan hingga kini. Di antaranya adalah Algedi (berasal dari kata Arab al-jadiy), Famul Hout ( fammu al-huut), Sada Saoud ( sa’du as-su’ud), Sheratan ( assarthan), dan Acrab ( al-’aqrab). Itu menunjukkan kontribusi luar biasa ilmuwan Muslim terhadap ilmu ini.
(republika.co.id/30/8/18)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories