Istana Kornik, Jejak Seni Islam di Polandia

Istana Kornik, Polandia. foto: rol


MUSTANIR.COM, Tak terbantahkan bahwa Islam turut mewarnai kehidupan bangsa Eropa di masa lalu. Salah satu bukti nyata akan hal itu adalah Istana Kornik di Polandia.

Bangunan megah yang dipugar pada abad ke-18 oleh bangsawan Tytus Dzialynski ini merupakan perpaduan luar biasa antara kecanggihan dan keindahan sebuah arsitektur. Puri atau istana yang sejak 1924 menjadi salah satu identitas nasional Polandia ini tampil dengan arsitektur Islam yang begitu kental.

Pengaruh itu terlihat dari desain dekorasi serta lekak-lekuk bangunan yang mirip Istana Alhambra, Spanyol. Pada saat yang sama, ada pula sentuhan unsur arsitektur Masjid Sultan Hassan di Kairo dan Taj Mahal di India. Budaya Timur memang bukan sesuatu yang asing bagi kalangan bangsawan Polandia.

Pengaruh budaya Timur masuk melalui interaksi budaya antara kawasan Eropa Tengah dengan Kekaisaran Turki Usmani pada akhir abad ke-17. Tak heran, Polandia banyak mengadopsi tradisi ketimuran bangsa Turki, selain dari bangsa Persia.

Dari interaksi tadi, terjadi pula penyebaran busana Muslim Turki di Polandia. Hal ini setidaknya tampak dari kostum nasional para bangsawan Polandia yang berwujud jubah panjang dan mantel. Busana ini dilengkapi dengan aksesori berupa pedang melengkung.

Pada abad ke-15 hingga ke-17, banyak elemen arsitektur bangunan Muslim dipopulerkan di Eropa Barat melalui buku-buku arsitektur. Bahkan, gaya arsitektur Muslim di Istana Alhambra pernah dipamerkan di London pada 1851. Tak hanya Istana Alhambra dan Kornik, banyak lagi bangunan peninggalan penting lain di Eropa yang mengadopsi gaya arsitektur Muslim.

Istana Kornik sendiri yang berada di sebuah kota kecil bernama Kornik, kerap menumbuhkan pertanyaan di benak orang-orang yang melihatnya. Mereka bertanya-tanya mengapa sang pemilik, Tytus Dzialinsky, menonjolkan gaya Islam terutama di bagian perpustakaan.

Menjawab pertanyaan ini, jurnalis lepas sekaligus fotografer, Malgorzata de Latour-Abdalla, mencoba menarik benang merah antara warga Muslim di Alhambra, Spanyol, di abad pertengahan dengan penganut Kristen di Istana Kornik.

Warisan nasional Abdalla memulai penjelasannya dari abad kemakmuran di Benua Eropa. Saat itu, negara persemakmuran tersebut dihancurkan oleh tetangganya yakni Austria dan Kerajaan Prusia- Rusia.

Akibat penghancuran itu, selama 123 tahun Polandia tidak dapat ditemukan dalam peta Eropa. Selama masa itu pula, tak ada pemerintahan atau lembaga resmi yang mengurus warisan nasional Polandia. Dalam kondisi seperti itu, kaum bangsawan Polandia dan Lithuania pun kemudian ditah- biskan sebagai pelindung sejarah dan warisan nasional bangsanya.

Dalam upaya melindungi warisan dan sejarah nasional itu, para bangsawan berinisiatif membangun museum pribadi. Di museum inilah, mereka mencoba mengumpulkan keping-keping kemegahan bangsa Polandia di masa lalu.

Upaya ini mereka rasakan sebagai tugas patri- otik. Mereka mengumpulkan naskah tua dan memorabilia para leluhurnya seperti senjata, permadani, porselen, perak, dan benda berharga lainnya. Benda-benda tersebut mereka pajang dan kumpulkan dalam sebuah museum yang kemudian disebut sebagai puri atau istana.

Salah satu bangsawan Polandia yang berupaya mengumpulkan dan melindungi warisan nasional ini adalah Tytus Dzialynski. Ragam peninggalan itu dikumpulkan dalam sebuah kastil kuno miliknya. Belakangan, kastil itu direnovasi menjadi bangunan megah yang layak disebut istana.

Cara ini untuk mengamankan warisan nasional, tulis Dzialynski dalam suratnya yang diterjemahkan oleh Abdalla. Pada masa pendudukan Prusia, bangsawan asal Kornik ini tak putus asa mencari sarana untuk mengekspresikan rasa nasionalismenya. Ia mengerahkan sejumlah arsitek Eropa terkemuka untuk menyulap bangunan tua miliknya menjadi bangunan megah.

Pilihannya jatuh pada perpaduan antara gaya gotik dengan unsur-unsur Arab dan Islam. Dalam hal ini, Dzialynski memilih sentuhan budaya Islam yang ia lihat pada bangunan Kerajaan Moor. Pada saat itu, memang muncul keinginan dari Dzialynski untuk `mendekatkan’ bangunan ini dengan Sang Pencipta yaitu Tuhan.

Inspirasi juga datang dari Masjid Sultan Hassan di Kairo, Mesir. Ini diadopsi pada pintu masuk aula Istana Kornik. Dzialynski juga tertarik dengan Mausoleum Taj Mahal di Agra, India. Di Istana Kornik, pengaruh gaya arsitektur ala Taj Mahal terekam pada ceruk-ceruk di bagian belakang istana ini.

Selain para arsitek, Dzialynski memercayakan proyek besar ini kepada para pengrajin lokal Polandia. Namun, bukan sembarang pengrajin, melainkan mereka yang memiliki keahlian seni tinggi. Bangsawan ini mengaku menemukan jiwa patriotismenya pada bentuk-bentuk seni ketimuran. Menurutnya, arsitektur Timur lebih beragam dan telah ada ratusan tahun sebelumnya.

Selain itu, meningkatnya minat terhadap studi bu daya Timur di kalangan komunitas Kristen Eropa saat itu juga mendorong keterbukaan budaya se perti ditunjukkan Dzialynski.

Perpustakaan

Di antara sejumlah ruang di Istana Kornik, salah satunya yang difavoritkan adalah perpustakaan dengan 320 ribu koleksi buku. Di sini, Dzialynski merancang rak buku yang membagi buku-bukunya menjadi beberapa kategori, seperti sastra, sejarah, dan geografi.

Cukup lama Dzialynski mengumpulkan naskah-naskah tua dan langka, kebanyakan naskah dari Prancis di abad ke-9 dan ke-10. Koleksi berharga lainnya dari perpustakaan ini adalah salinan Alkitab abad ke-13 yang disadur dalam delapan bahasa. Namun, koleksi yang paling penting adalah dua manuskrip Alquran dari abad ke-15 dan ke-17.

Salah satunya salinan yang sangat bagus dari tahun 1470 M (atau 874 Hijriah). Panjangnya sekitar 12-15 cm. Lembaran-lembaran kertas putih bertuliskan huruf Arab dijilid dengan sampul kulit. Bentuk tulisan kaligrafinya sangat indah dengan torehan tinta hitam dan pinggiran berwarna emas dan biru. Baris per- tama dan terakhir pada setiap hala- man ditulis dengan huruf emas. Sementara itu, judul setiap surah dibingkai dalam ornamen emas berlatar belakang biru.

Selain ribuan buku, Dzialynski juga mengoleksi sejumlah lukisan bertema budaya Timur. Beberapa di antaranya lukisan miniatur Turki dan Persia. Ada pula kartu pos dari cat minyak yang menggambarkan kedatangan orang mulia dari Timur dalam kemeriahan acara masyarakat Polandia.

Lukisan lainnya menggambarkan seorang wanita Timur sedang menghirup shisa lewat pipa panjang. Gambar ini seakan-akan merupakan sindiran terhadap budaya Eropa di masa itu yang tidak menerima emansipasi wanita. Sejak 1924, Istana Kornik dinyatakan sebagai salah satu warisan nasional Polandia. Masyarakat diperbolehkan melihat ragam koleksi yang tersimpan di dalamnya.
(republika.co.id/26/6/18)

Categories