Indef: Harga Pertamax Naik, Inflasi Berpotensi Bengkak

Ilustrasi. foto: liputan6.com

MUSTANIR.COM, Jakarta – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi yang dilakukan PT Pertamina (Persero) akan menekan inflasi tahun ini yang diproyeksikan 3,5 persen.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengungkapkan kenaikan harga BBM akan menjadi satu dari dua faktor utama yang mempengaruhi inflasi hingga akhir tahun. Faktor lainnya adalah depresiasi nilai tukar terhadap dolar AS.

Menurut dia, dua kombinasi ini tentu akan menekan daya beli masyarakat. Namun, ada kemungkinan hanya daya beli masyarakat perkotaan yang tergerus akibat kebijakan ini, mengingat BBM non-subsidi sebagian digunakan oleh masyarakat perkotaan.

Namun, kenaikan harga BBM bisa jadi signifikan jika pergerakan harga di kelompok pengeluaran konsumen yang lain terbilang stabil.

Berkaca pada Februari silam, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk kelompok transportasi, jasa keuangan, dan komunikasi meningkat 0,28 persen gara-gara kenaikan harga BBM non-subsidi. Ini menjadi salah satu biang keladi utama inflasi Februari 2018 yang mencapai 0,99 persen.

“Kalau memang segmented di kota besar, tentu dampaknya ke inflasi cukup signifikan. Apakah dinamikanya sama di kota lain, itu juga perlu diperhatikan,” jelasnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (10/10).

Sebetulnya, dampak inflasi yang cukup besar akan terjadi jika harga BBM bersubsidi dinaikkan. Sebab, BBM bersubsidi, seperti Solar akan digunakan untuk distribusi, sedangkan BBM non-subsidi lebih banyak digunakan untuk kepentingan pribadi.

Kendati demikian, ia tak bisa memprediksi angka pasti inflasi akhir tahun setelah kenaikan BBM dilakukan. “Memang untuk inflasi, sejauh ini kenaikan BBM bersubsidi yang punya dampak cukup besar,” ungkap Eko.

Untuk menjaga daya beli, ada kemungkinan masyarakat pengguna BBM non-subsidi akan kembali beralih menggunakan BBM yang harganya diatur pemerintah, seperti Premium. Hanya saja, saat ini akses untuk mendapatkan Premium disebut terbatas, sehingga masyarakat mau tak mau harus menggunakan Pertamax atau Pertalite.

Selain itu, ia menaksir pelemahan daya beli karena kenaikan BBM non-subsidi akan lebih dirasakan oleh masyarakat dengan golongan pendapatan kelas menengah.

Sebab, untuk golongan masyarakat kelas atas, kenaikan harga BBM mungkin tak sebanding dengan kenaikan pendapatan yang diperoleh. Sementara itu, untuk golongan masyarakat bawah, pemerintah bisa mengompensasi kenaikan harga BBM dengan bantuan pemerintah agar daya belinya tetap terjaga, seperti Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) atau Program Keluarga Harapan (PKH).

“Sebab, kelas menengah relatif tidak dapat kompensasi atas kenaikan harga BBM dalam aspek yang lain. Kalau masyarakat berpendapatan bawah ini kan sudah ada bantuan dari pemerintah,” terang dia.

Sebelumnya, Pertamina menyesuaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax dan Dex Series, serta Biosolar Non-PSO. Sementara, untuk BBM jenis Premium, Biosolar PSO, dan Pertalite, harganya tidak berubah.

External Communication Manager Pertamina Arya Dwi Paramita mebilang penyesuaian ini berlaku hari ini, Rabu (10/10) dan berlaku di seluruh Indonesia pukul 11.00 WIB.

Melalui penyesuaian ini, di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya misalnya, harga Pertamax dipatok Rp10.400 per liter atau naik dari harga sebelumnya Rp9.500 per liter. Sementara itu harga Pertamax Turbo naik dari Rp10.700 per liter menjadi Rp12.250 per liter.

Di sisi lain, Pertamina Dex harganya naik dari Rp10.500 per liter menjadi Rp11.850 per liter. Dexlite naik dari Rp9 ribu per liter menjadi Rp10.500 per liter dan Biosolar Non-PSO sebesar Rp.9.800 per liter.
(cnnindonesia.com/10/10/18)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories