Duka Donggala Dan Peringatan Untuk Negeri

Tim SAR MDMC evakuasi korban gempa Palu di bawah runtuhan Hotel Roa Roa. foto: LazisMU

MUSTANIR.COM – Gempa kembali mengguncang ibu Pertiwi, setelah Lombok porak poranda kini Kabupaten Donggala, Palu dan sekitarnya hancur setelah diguncang gempa berkekuatan 7,7 SR serta Tsunami setinggi 1,5 meter pada Jum’at 28 September 2018 pukul 18.00 waktu setempat. Bukan hanya bangunan yang runtuh, ratusan nyawa pun melayang dalam waktu tak sampai satu malam. Mayat-mayat ditemukan dipinggiran jalan tergeletak tak berdaya, korban luka menjerit berharap ada yang mendengar suara lirih menahan sakit.

Ibu Pertiwi kembali bergelinang air mata, belum usai duka Lombok, Donggala menambah derita negeri ini. Dihimpun dari halaman Hidayatullah “ Hingga saat ini sedikitnya sudah 384 orang yang tercatat meninggal dunia korban gempa dan tsunami di Kota Palu, Sulawesi Tengah, sedangkan untuk data di Kabupaten Donggala, hingga Sabtu (29/09/2018) tadi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengakui belum mendapatkan datanya.” Korban ini pastinya akan terus bertambah, sebab evakuasi korban masih terus berlanjut hingga beberapa hari mendatang.

Gempa yang mengguncang beberapa wilayah di Negeri ini, sudah seharusnya menjadi sebuah cambukan untuk terbentuknya kesadaran menyeluruh tentang seberapa parah kerusakan yang terjadi di bumi Pertiwi ini. Sebab, orang-orang yang ingkar pada masa Nabi terdahulu juga Allah binasakan dengan bencana Alam. Kisah mereka terabadikan dalam firman-Nya. “Kisah kaum Nabi Nuh yang ditimpakan bencana banjir besar kepada siapa pun yang ingkar, termasuk anak dan istri Nabi Nuh (QS. Al-Ankabut: 14).

Kemudian kaum Nabi Hud, Allah mendatangkan bencana angin yang dahsyat disertai dengan bunyi guruh yang menggelegar hingga mereka tertimbun pasir dan akhirnya binasa (QS Attaubah: 70, Alqamar: 18, Fushshilat: 13, Annajm: 50, Qaaf: 13).

Kaum Nabi Saleh (Kaum Tsamud) dan kaum Nabi Luth juga telah menyimpan kisah pilu; ditimpakan kepada mereka azab berupa gempa bumi dahsyat disertai angin kencang dan hujan batu hingga menghancurkan rumah-rumah mereka. Kaum Nabi Luth ini akhirnya tertimbun di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri (QS. Asy-Syu’ara: 160, An-Naml: 54, Al-Hijr: 67, Al-Furqan: 38, Qaf: 12).

Begitu pun dengan kisah kaum Saba yang diberi berbagai kenikmatan berupa kebun-kebun yang dilimpahi pepohonan subur. Mereka kemudian diazab oleh Allah karena enggan beribadah kepada Allah walau sudah diperingatkan oleh Nabi Sulaiman, akhirnya Allah menghancurkan bendungan Ma’rib dengan al-arim atau banjir besar (QS. Saba: 15-19).

Sungguh, telah banyak sekali kisah dari kaum Nabi terdahulu yang Allah abadikan dalam Firman-Nya, kaum yang ingkar atas aturan-Nya dan kemudian Allah turunkan bencana besar atas mereka hingga binasa tak tersisa sedikitpun. Tatkala manusia berbuat kemungkaran, maka Adzab Allah telah siap menghampiri.

Hari ini, pengingkaran akan hukum-hukum Allah telah sangat masif dilakukan bukan hanya skala individu tapi negara dalam hal ini penguasa pun tak segan-segan menampakkan wajah asli mereka, wajah orang-orang penentang aturan Allah.

Ulama yang tak pro kepada mereka, maka siap untuk dipersekusi. Ormas Islam yang lurus dibekukan dengan dalih mengancam keutuhan negeri. Belum lagi, para pengemban dakwah ditangkap seolah-olah pelaku kejahatan kelas kakap. Sementara, para koruptor dibiarkan bebas tanpa takut hidup susah dibalik jeruji, narkoba dibiarkan masuk merusak generasi dan masih banyak kerusakan lainnya dalam bumi ini yang dilakukan oleh manusia-manusia haus kekuasaan hingga melanggar aturan Allah menjadi hal yang lumrah dan biasa tanpa takut adzab dunia dan akhirat.

Gempa bumi Donggala ataupun Lombok dan realita kerusakan negeri ini, sejatinya memiliki korelasi positif bagi orang yang berfikir dan mau memahami ayat-ayat Allah. Sebagaimana firman Allah SWT “Lalu datanglah gempa menimpa mereka, dan merekapun mati bergelimpangan di dalam reruntuhan rumah mereka.” (Q.S. Al A’raf; 78).

Oleh karena itu, sudah saatnya manusia kembali ke jalan Islam dengan menerapkan perintah Allah dan Rasul-Nya (baca: Syariat Islam) hingga tatanan kehidupan bernegara. Tak lagi melakukan pengingkaran secara berjamaah, massif, dan tersistem serta meninggalkan kemaksiatan terbesar yang terjadi saat ini yaitu tidak dilaksanakannya syariat Islam secara kaffah dan sempurna. Dan cukuplah Donggala menjadi duka terakhir ibu Pertiwi.

Oleh. Tri Wahyuningsih (Aktivis Media & Anggota Komunitas Muslimah Jambi Menulis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories