Derasnya Investasi, Prestasi ataukah Petaka?

Ilustrasi. Foto: krjogja

Oleh : Yuliyati Sambas, SPt
Member Akademi Menulis Kreatif Regional Bandung

MUSTANIR.COM – “Berhati-hatilah kamu dalam berutang, sesungguhnya utang itu mendatangkan kerisauan di malam hari dan menyebabkan kehinaan di siang hari.” (HR al-Baihaqi)

Kutipan hadits tersebut menunjukkan betapa utang sebagaimanapun terasa manis dikarenakan ada satu manfaat yang dipinjamkan oleh si pengutang, namun pada kenyataannya justru akan mendatangkan kerisauan dan kehinaan jika disikapi dengan cara tidak tepat serta berlebihan.

Pada sebuah rangkaian acara IMF-World Bank Annual Meeting 2018 yang telah digelar beberapa waktu lalu, Indonesia berhasil mendapatkan investasi dengan nilai ratusan trilliun rupiah. Sebanyak 21 proyek diantaranya bernilai Rp 207 triliun disepakati pada Kamis, 11 Oktober 2018. (katadata.co.id, 14/10/2018)

Mantan Direktur LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial) Rustam Ibrahim menyampaikan melalui laman twitter @RustamIbrahim “Ternyata pemerintah melalui 14 BUMN menandatangani perjanjian kerja sama investasi dengan berbagai perusahaan internasional untuk proyek-proyek infrastruktur. Kerja sama disepakati dalam salah satu rangkaian acara Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia. Nilai kesepakatan mencapai Rp 202 triliun,” Tuturnya. (TribunWow.com, 11/10/2018)

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia kata investasi memiliki arti penanaman uang atau modal dalam suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan. Maka dari sini kita akan memiliki pemahaman bahwa tujuan dari suatu perusahaan berinvestasi bukan dalam maksud memberi, melainkan ditujukan untuk meraih keuntungan dalam arti modal atau uang yang telah mereka kucurkan wajib kembali plus kelebihan untungnya. Hal ini semakna bahwa investasi merupakan bahasa halus dari utang.

Lantas muncul pertanyaan derasnya investasi yang dikucurkan oleh perusahaan-perusahaan internasional pada saat pertemuan IMF-Bank Dunia sebuah prestasikah atau justru menyimpan petaka yang akan menggerogoti kedaulatan bangsa?

Jika kita mau melihat fakta yang demikian jelas tergambar di hadapan mata, bahwa negara ini berjalan menggunakan sistem neoliberalisme dengan prinsip kapitalisme yaitu sistem ekonomi dimana perdagangan, industri dan alat-alat produksi dikendalikan oleh pemilik swasta dengan tujuan memperoleh keuntungan dalam ekonomi pasar. Pemilik modal dalam melakukan usahanya berusaha untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Dengan prinsip tersebut, pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna memperoleh keuntungan bersama, tetapi intervensi pemerintah dilakukan secara besar-besaran untuk kepentingan-kepentingan pribadi. (Wikipedia Bahasa Indonesia)

Hal inilah yang menjadi akar dari permasalahan ekonomi yang demikian menggurita di negeri ini. Utang yang dibalut dengan gincu manis bernama investasi telah membius para pemangku jabatan di negeri ini dalam menjalankan arah roda pemerintahannya. Utang dijadikan sebagai salah satu sumber utama pendapatan negara selain pajak, bahkan saat ini telah tembus pada angka Rp 4.253 triliun per Juli 2018. (KOMPAS.com, 15/08/2018)

Padahal sejatinya jeratan utang adalah metode yang lumrah dijalankan oleh negara-negara penjajah dalam menancapkan hegemoninya. Jika dahulu penjajahan fisik berupa perang dilancarkan untuk mengalahkan negeri jajahan dan mengeruk harta kekayaannya ternyata belakangan disadari hal ini membutuhkan tebusan biaya, energi dan kekuatan militer yang luar biasa dahsyat. Maka kini dengan pendekatan lunak (soft power) mereka menggunakan jeratan hutang yang dipermanis dengan istilah investasi dan hal ini terbukti dapat menjadikan negara-negara target yakni negara dunia ketiga bertekuk lutut pada pengaruhnya tanpa mereka mampu menyadarinya.

Utang luar negeri juga akan menyebabkan kedaulatan bangsa tergadai. Kasus Yunani misalkan sebagai salah satu contoh negara yang sudah ditetapkan bangkrut disebabkan utang luar negerinya yang mencapai USD 1,7 miliar terhadap IMF tak mampu untuk dibayarnya dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. Setelah sebelumnya berbagai jenis regulasi yang diterapkan di dalam negerinya diketahui mengikuti arahan dari sang pemberi utang. Hingga pada akhirnya pada Juli 2015 Yunani mengambil langkah untuk tidak menuruti kehendak IMF untuk menurunkan anggaran gaji dan pensiun PNS juga menaikkan pajak, dan beberapa peraturan lain sebagai prasyarat negaranya akan mendapat suntikan dana (baca : utang) kembali meski hal itu harus ditebus dengan menyandang gelar negara bangkrut. (merdeka.com, 09/07/2015)

Ironisnya para punggawa kekuasaan di negeri kita justru merasa senang dan menganggap investasi dari perusahaan-perusahaan asing yang difasilitasi oleh IMF dan World Bank sebagai bentuk prestasi yang layak untuk dibanggakan.

Pada kenyataannya, investasi sebagai bahasa lain dari utang akan mengakibatkan negara ini terpuruk, baik dalam hal kedaulatan, kekayaan alam bumi pertiwi akan dikeruk bahkan sampai tak bersisa, dan yang tak kalah mengerikannya jeratan utang berbasis ribawi akan menjadikan perjalanan negeri ini terseok menuju jurang kehancuran karena tidak mengikuti titah dari Sang Penguasa Jagat Raya yakni Allah SWT.

Islam sebagai agama paripurna dan berasal dari Dzat Yang Menciptakan alam semesta, manusia, dan kehidupan memiliki seperangkat aturan yang sangat rinci terkait pengaturan dan pengurusan masyarakat. Islam sebagai ideologi mempunyai tata aturan yang detil terkait pengurusan setiap aspek kehidupan mulai dari politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan.

Problematika terkait dengan utang ini sesungguhnya dapat diurai dan diselesaikan hingga ke akarnya, bahkan negara sangat mampu untuk berjalan dengan kedaulatan penuh tanpa masuk ke dalam jeratan utang luar negeri berbasis riba. Caranya adalah mengganti paradigma berfikir dan beralih pada Sistem Islam yakni Daulah Khilafah Rasyidah yang secara historis telah terbukti mampu menjadikan negara penganutnya menjadi adi kuasa dan dapat mensejahterakan seluruh lapisan masyarakat yang ada di bawah kekuasaannya.

Maka masihkah kita mau terjerumus mengikuti alur berfikir bahwa investasi adalah sebuah prestasi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories