Bappenas Ingatkan Risiko Utang RI Usai Gelaran Asian Games

Bappenas mengingatkan risiko utang RI usai menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Kekhawatirannya, RI semakin terbebani tumpukan utang. foto: cnn

MUSTANIR.COM, Jakarta – Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang PS Brodjonegoro mengingatkan risiko utang RI usai menjadi tuan rumah di ajang olah raga Asian Games 2018. Jika tidak hati-hati, ekonomi Indonesia akan terbebani oleh tumpukan utang dan sarana olah raga yang pemanfaatannya tidak optimal.

“Ada kota atau negara yang menjadi tuan rumah suatu pagelaran yang kemudian mengalami kesulitan keuangan atau gangguan dalam konteks pembayaran utang,” ujar Bambang dalam konferensi pers di kantornya, Kamis (26/4).

Ambil contoh, Kanada saat menggelar Olimpiade Montreal 1976. Kala itu, anggaran Kanada bengkak dari US$250 juta menjadi US$1,4 miliar. Akhirnya, kebutuhan pendanaan ditutup dari utang yang jatuh tempo dalam tiga puluh tahun. Padahal, dampak pagelaran itu ke perekonomian Kanada tidak terlalu besar.

Tak cuma Kanada, Jepang juga pernah kebobolan waktu menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 1998 di Nagano. Gara-gara gelaran itu, utang melonjak sampai US$11 miliar atau US$30 ribu per keluarga.

“Setelah olimpiade, kotanya (Nagano) malah mengalami resesi dan hampir tidak ada dampak positif,” jelasnya.

Kemudian, Olimpiade Athena pada 2004 yang kebetulan bersamaan dengan krisis utang Yunani. Hal ini dikarenakan ajang Olimpiade membutuhkan biaya besar, kemungkinan tambahan utang juga berkontribusi pada kondisi krisis utang Yunani.

“Mereka juga kurang memanfaatkan sarana olah raga, terutama setelah pelaksanaan olimpiade. Sarana menjadi menganggur dan tidak banyak dipakai,” terang Bambang.

Namun demikian, banyak juga negara yang berhasil memanfaatkan gelaran pesta olah raga untuk mendongkrak profil dan perekonomiannya. Misalnya, Korea Selatan yang kini bisa dianggap sebagai negara maju.

Pada 1986 silam, Korea Selatan menjadi tuan rumah Asian Games, dilanjutkan pada 1988 menjadi tuan rumah Olimpiade, dan 2002 menjadi tuan rumah Piala Dunia bersama Jepang.

“Ini contoh bagaimana suatu negara bisa memanfaatkan gelaran (olah raga) ini untuk meningkatkan profilnya dan meningkatkan status perekonomiannya,” imbuhnya.

Persiapan Asian Games 2018 mencakup pembangunan infrastruktur. Belum lagi, kebutuhan biaya untuk kegiatan operasional serta persiapan sarana dan prasarana yang diperkirakan bakal menelan Rp6,6 triliun.

Untuk membiayainya, pemerintah menggunakan dana APBN di mana sebagian dibiayai oleh utang negara baik dalam bentuk surat berharga maupun pinjaman.

Karenanya, pemerintah perlu memperhitungkan dampak positif terhadap perekonomian nasional bakal melampaui efek negatif yang mungkin terjadi.

Guna mencegah timbulnya efek negatif terkait pemeliharaan dan penggunaan tempat acara usai pagelaran Asian Games 2018, Indonesia perlu melakukan langkah antisipasi. Misalnya, peningkatan aktivitas olah raga sebagai bagian dari strategi peningkatan prestasi olah raga di Indonesia, peningkatan kesadaran masyarakat untuk beraktivitas olah raga, dan pemanfaatan venue olah raga untuk kegiatan lain di luar olah raga, seperti pertemuan, konferensi, serta pameran.

Saat ini, pemerintah juga telah mendirikan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Jakabaring Sport City yang bertugas mengelola aset keolahragaan di Jakabaring secara profesional. Dengan demikian, aset keolahragaan hasil Asian Games 2018 bisa dimanfaatkan secara maksimal, baik untuk event olah raga nasional dan internasional, maupun masyarakat umum.
(cnnindonesia.com/27/4/18)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories