Alam Mencekam Sebab SyariatNya Dicampakkan?

Ilustrasi gempa Lombok. foto: Kumparan.com

Oleh: Habibah Nafaizh Athaya

MUSTANIR.COM, Memasuki bulan juli hingga agustus ini, musim kemarau mulai menyapa bumi pertiwi. Seperti yang terjadi di beberapa daerah di jawa yang mengalami kekeringan kritis. tercatat bahwa setidaknya ada sekitar sepuluh daerah di jawa tengah mengalami kekekringan ekstrim. dimana ke sepuluh daerah itu meliputi Wonogiri, Klaten, Tegal, Pati, Grobogan, Boyolali, Sragen, Purbalingga, dan Pekalongan. (ini adalah perhitungan perdaerah bukan per desa)

Tidak dapat di pungkiri bahwa kekeringan yang melanda Indonesia memang bukan yang pertama kali. sebab memang saat ini kita sudah memasuki musim kemarau. Maka untuk sebagian kita itu adalah sesuatu yang biasa saja.

Tapi kekeringan yang melanda Negeri dengan julukan zambrut khatulistiwa Ini agak sedikit berbeda. sebab hal ini hampir sama dengan fenomena kekeringan di tahun 2015 lalu. yang dipengaruhi el nino. dan dampaknya sangat bisa di rasakan. meskipun kali ini kekeringan tidak se parah tahun 2015 lalu.

kekeringan yang dianggap sebagai sesuatu yang tabu di musim kemarau ini sebenarnya tidak jadi masalah andai saja kekeringan ini tidak pada status ekstrim/kritis.

Menyikapi semua ini sebagai muslim kita kembali untuk mengintropeksi diri lagi. sebab tidakkah Allah mengatakan dalam FirmanNya

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبِرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Artinya:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS: Ar-Rum Ayat: 41)

Kemarau kali ini bukan hanya melanda daerah jawa tengah saja. di jawa timur sendiri terdapat 199 desa yang masuk dalam lingkaran kekeringan. selain itu, kekeringan juga melanda NTB.
dan itu hanya sebagian dari data yang tertera saat ini.

Akibatnya adalah kerugian yang dirasakan dalam waktu dekat dan berkelanjutan. nah, jika air susah di dapatkan maka segala aktivitas bisa saja terkendala. mulai dari makan minum, masalah MCK warga, dan masih banyak lagi. Pada jangka panjang berdampak pada hasil perkebunan yang gagal total. ini jelas menjadi kegalauan berkepanjangan bagi masyarakat. Saat perekonomian defisit, hasil panen tak dapat di harapkan dan kehidupan sehari-hari tidak tercukupi dalam hal perairan rumah tangga.

Belum lagi kemarin kita di pilukan dengan Gempa beruntun di wilayah Nusa Tenggara Barat yang hampir 100% meratakan setiap bangunan dengan tanah. Bagi masyarakat di NTB ini amat sangat memilukan. kenapa tidak? Belum berakhir segala hal yang berkecamuk pasca gempa. kini kekeringan ikut melanda. kesulitan demi kesulitan kian melanda negeri tercinta.

mungkin kita pernah bertanya. ada apa? mengapa seakan ALLAH Murka? mungkinkah ini teguran darinya?
atau mungkin kita hanya menganggapnya sebagai bencana alam biasa? Apapun bentuknya dan seperti apapun itu. seyogyanya kita bisa introspeksi lebih. siapa tau ini adalah teguran atau mungkin Adzab.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, kekeringan yang terjadi saat ini adalah Kekeringan antropogenik. Dimana kekeringan antropogenik adalah kekeringan yang terjadi karena disebabkan oleh perbuatan tangan manusia berupa pendirian bangunan pada daerah resapan air, penambangan pasir secara terus-menerus, dan alih fungsi lahan di kawasan lindung area hulu menjadi kawasan budidaya.

Maka jelas bahwa jika kita merujuk pada fakta di atas ternyata Kebenaran dari FirmanNya. ini semua atas ulah tangan manusia.

Hal paling urgen di sini sebenarnya adalah karena sistem yang di gunakan untuk mengatur segala aspek pembangunan dan alih fungsi lahan dan sebagainya adalah sistem kapitalisme. dimana segala sesuatu yg bisa di swastanisasi akan di swastakan. tanpa melihat lagi dampak dan hukum alam serta tuntunan dari sang pemilik alam.
yang menjadi tolok ukur hanyalah keuntungan sebesar mungkin.manfaat sebanyak mungkin. tidak ada yang lain.

Jika kita merujuk pada setiap apa yang Allah timpakan pada kita melalui kekeringan dan kecaman alam tak berkesudahan. seyogyanya menjadi batu loncatan untuk kembali berpegang teguh dan bertaqwa padaNYA.

Belum lagi syariat, aturan dan tuntunannya dicampakkan dan di alih fungsikan hanya untuk kepentingan bagi segelintir orang bertopeng kemunafikan.

Maka hal paling bijak untuk saat ini kita lakukan adalah kembalikan segalanya pada apa yang semestinya. agar semesta berirama indah dengan ridho sang pencipta. sebab kita ketahui bersama tidak ada yang lebih sempurna selain dariNYA.

Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories