Al Khaththath: Parpol Islam Tak Bisa Tandingi Aksi 212

Sekjen FUI Al Khaththath. foto: beritahati.com


MUSTANIR.COM, Jakarta — Sekretaris Jenderal Forum Umat Islam (FUI) Al Khaththath menyebut animo pada Aksi 212 jilid pertama (2 Desember 2016) sebagai kekuatan politik yang riil. Ia bahkan mengklaim kekuatan politik massa itu tak akan mampu ditandingi partai politik Islam.

“Ketika 212, 7,5 juta orang berkumpul di Monas, ahli politik tidak ada satu persen… Itu kekuatan politik yang riil,” ujar Al Khaththath pada diskusi bertajuk ‘Quo Vadis Suara Politik Umat Islam’ di Jakarta Selatan, (24/1).

Al Khaththath menyebut kekuatan politik pada aksi 212 bisa terbangun meski hanya ada segelintir tokoh politik. Ia menyebut pentolan Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab, sebagai satu di antaranya.

“Kemarin reuni, tidak ada Habib Rizieq sebagai lambang. Tahun sebelumnya, beliau jadi faktor penentu,” ujar Al Khaththath.

Dalam diskusi tersebut, Al Khaththath memilah unsur politik menjadi kekuatan dan tokoh politik. Tokoh politik adalah orang yang ahli tentang ilmu politik. Kekuatan politik, katanya, seperti ulama-ulama di daerah, yang mampu menggerakkan massa.

Al Khaththath mengatakan, masalah parpol Islam saat ini adalah terlalu banyak tokoh politik, tapi kurang kekuatan politik.

Ia mencontohkan Ketua Umum Partai Bulan Bintang Yusril Ihza Mahendra. Al Khaththath mengakui kepakaran Yusril dalam urusan hukum dan politik.

Kalau Yusril menangani kasus hukum, ucapnya, pasti menang. Namun hal itu tak terjadi di ranah kontes politik.

“Tapi begitu Pemilu kemarin (2014), di TPS beliau suara PBB cuma tiga. Saya tidak tahu, apa suara beliau, istri, atau pembantunya,” sindir Al Khaththath.

Dalam pemilu 2014 silam, di tempat Yusril menggunakan hak suara di TPS 004 kompleks Denpasar, Kelurahan Kuningan Timur, Jakarta Selatan. Di sana, partai yang ia pimpin hanya mendapat 3 suara.

Sementara itu, PDIP 239 suara, Gerinda dengan 35 suara, Partai Golkar 17 suara, Partai Nasdem dengan 12 suara, Partai Demokrat 5 suara, dan PKPI 1 suara.

Pengamat Politik Universitas Negeri Jakarta Ubedillah Badrun berpendapat partai politik berbasis Islam tidak pernah melakukan riset mengenai kebutuhan umat Islam di Indonesia.

Hal tersebut membuat Parpol Islam lemah dan tak mampu menjaring suara umat Islam. Padahal umat Islam, menurutnya, memiliki potensi sebagai mayoritas di negara ini.

Sekitar 85 persen dari rakyat Indonesia, kata Ubedillah, suaranya terpecah ke sembilan partai politik. Berkaca pada Pemilu 2014, lima Parpol berbasis Islam hanya mampu mendapat 31,41 persen atau sekitar 39,22 juta suara.
(cnnindonesia.com/25/1/18/)

Categories