Akhirnya Lintah Darat itu Mencekik Negeri Ini Dengan Utang Riba 15 T

Ilustrasi. foto: katadata

Oleh: Nasrudin Joha

MUSTANIR.COM – Setelah bau busuk IMF terendus, maka jaringan rentenir internasional sepakat untuk menjerat negeri ini dengan utang riba melalui WB. Meski entitas berbeda, tapi IMF dan WB adalah milik orang yang sama, milik jaringan rentenir kapitalisme global yang punya tugas ‘menggandakan’ uang para kapitalis, melalui bisnis haram ‘rentenir dan lintah darat’.

Kapitalisme global, melalui WB berkunjung ke lokasi gempa, bukan untuk mengunggah keprihatinan dan empati, tapi untuk memastikan bisnis ‘renten’ mendapat legitimasi publik. Alasan recovery ini dan itu lah, bangun ini dan itulah, untuk kebutuhan ini dan itu, tapi substansinya satu “menjerat negeri ini dengan utang riba dengan bunga berlipat-lipat”.

Selanjutnya, para begundal kekuasaan, para pengpeng (penguasa pengusaha) mengkomersialisasi bencana dengan proposal pentingnya membeli ini dan itu, membangun sarana prasarana ini dan itu, yang semuanya di alamatnya untuk rakyat, agar jaringan bisnis mereka mendapatkan kue dari kucuran utang riba WB. Diantara para pengpeng, akan membagi jatah kapling ‘proyek ngalap berkah’ dari musibah gempa. Ada yang kebagian jalan ini dan itu, jembatan ini dan itu, gedung ini dan itu, rumah ini dan itu, pokoknya cair, sarana ini dan itu, dsb.

Akhirnya rakyat yang kebagian sebagai pihak yang membayar utang berikut ribanya. Manfaat yang didapat rakyat 10 membayar utang 180. Ada 170 nilai yang menguap hanya jadi bancakan pemenang proyek dan untuk bayar utang riba.

Padahal, untuk dapat utang riba 15 T, negeri ini harus rogoh kocek 800 M untuk biaya pesta pora para bankir. Seolah tidak peduli dengan bencana. Pesta terus berlanjut, ditengah kritik publik yang terus berisik.

Tadinya rakyat mengira, kunjungan WB adalah kunjungan kemanusiaan, kunjungan keprihatinan, kunjungan kesetiakawanan. Ternyata, kunjungan bisnis. Bisnis mengeksploitasi bencana untuk menggandakan duit kapitalis dunia dengan memberi utang riba.

Lha, bagaimana negeri ini tidak terkena azab dan bencana , kalao cara cari nafkah untuk melayani rakyat dari ngutang duit riba ? Padahal, dosa riba yang terkecil itu seperti zina dengan ibu kandung.

Lagipula, bagaimana negeri ini bisa maju, Kalo manajemen mengelola negara memakai filsafat hidup Bung Oma “GALI GALI GALI GALI LOBANG, GALI LOBANG TURUP LOBANG, CARI UTANG BAYAR UTANG”. Gitu katanya slogannya kerja-kerja-kerja, Lha selama ini kerjanya apa? Gimana negara jadi cekak anggaran sampai ngutang ? Padahal BBM udah dinaikin, TDL udah dinaikin, rakyat udah diminta makan bekicot, terus duit negara dikemanain ?

Para penjajah itu mau menggunakan muka ramah, untuk menyembunyikan tabiat buruk mereka mengeksploitasi bangsa lain. Sementara para penguasa antek, seperti sales penjajah yang dapat fee marketing dari setiap utang yang dikucurkan. Penguasa antek tidak pernah memikirkan rakyat, bahkan kesusahan rakyat pun dibaca peluang oleh mereka.

Wahai umat, bilakah kalian akan sadar ? Demikianlah penguasa kalian, siang dan malam terus mencelakakan kalian. Masihkah, mandat itu terus dipertahankan sementara kalian terus ditindas oleh kekuasaan ?

Tidakkah kalian ingin terbebas ? Terbebas dari penghambaan kepada makhluk, menuju menghamba hanya kepada Allah SWT semata ? Terbebas dari penjajahan dan penindasan, dan segera menuju keluasan hidup dan ampunan dari Allah SWT ? Karena itu, segera campakkan kapitalisme sekuler yang membelenggu pikiran kalian. Segeralah, kembali kepada syariat Islam. [].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories