Ada Forum Pembela Kalimat Tauhid di Bali yang Kecam Pembakaran Bendera

Forum Pembela Kalimat Tauhid menyampaikan pendapatnya terkait pembakaran bendera yang disebut milik HTI. foto: jawapos

MUSTANIR.COM, DENPASAR – Tujuh organisasi muslim di Bali yang bersatu dalam Forum Pembela Kalimat Tauhid merespon pembakaran bendera Tauhid yang dilakukan oleh salah satu oknum Banser pada perayaan hari santri Senin (22/10) di Garut Jawa Barat.

Meskipun tidak secara terang – terangan dalam menyuarakan kekecewaannya pada Kamis (25/10). Namun terlihat bahwa ada gejolak di kalangan umat muslim yang ada di Bali akhibat peristiwa di Garut tersebut.

Disampaikan oleh Koordinator Advokasi Zaenal Abidin di Jalan Merdeka Renon Kamis sore bahwa atas nama Forum Pembela Kalimat Tauhid mengecam, mengutuk aksi tersebut. Pasalnya bendera yang dibakar tersebut bertuliskan kalimat Tauhid (Ar – Rayah) bukan bendera HTI.

“Kami di sini ingin memberikan pernyataan sikap tegas membenci dan mengutuk kegiatan dari pembakaran bendera tauhid,” ungkapnya.

Pihaknya lantas meminta agar pihak kepolisian bertindak tegas. Sikap tegas tersebut diungkapkan akan dapat meminimalisir dari gejolak – gejolak di masyarakat. Pihaknya meminta agar segera menetapkan pelaku sebagai tersangka sebagaimana dalam pasal 156 a KUHP yaitu penistaan agama. “Kami pikir, kami rasa dan kami kaji sudah memenuhi unsur tersebut,” ungkapnya.

Zaenal yang awalnya terkesan menggebu – ngebu saat menyampaikan kekecewaannya. Tiba – tiba nada suaranya pun berubah datar saat koran ini melontarkan sebuah pertanyaan. Lantas seperti apa kondisi umat muslim di Bali sendiri pasca kejadian tersebut?, Zaenal terkesan menolak memberikan jawaban. Pihaknya hanya menimpali “Kalau itu tidak perlu kami jawab dulu”.

“Dengan adanya kumpul di sini kan teman – teman sudah bisa melihat ini ada gejolak karena kami sedih. Yang jelas karena yang membakar juga saudara kita, kami menginginkan mereka bertaubat. Tapi hukum tetap harus ditegakkan. Simpel, sederhana,” ungkapnya.

Respons forum ini pun rupanya tidak selaras dari apa yang dipesankan oleh Pangdam IX/Udayana Mayjen Benny Susianto di hari yang sama pada Kamis (25/10).

Dalam simakrama yang digelar di Makodam IX/Udayana Benny meminta kepada masyarakat muslim di Bali agar tidak terprovokasi dengan peristiwa di Garut, Jawa Barat. Lantaran pelaku juga sudah menyampaikan tiga hal penting terkait aksinya. Bahwa aksi tersebut dilakukan atas nama pribadi dan emosi sesaat semata, niatnya pelaku adalah bendera HTI dan sudah meminta maaf.

“Saya pikir okelah dia sudah mengakui. Saya kira selesai. Adanya langkah hukum ya kita serahkan ke penegak hukum,” terangnya.

Menanggapi hal aksi Forum Pembela Kalimat Tauhid, salah satu Ketua GP Anshor Ranting Kerobokan Busni menyampaikan bahwa seluruh Banser di Bali aman – aman saja. Tidak terprovokasi kejadian tersebut. Pasalnya bendera yang dibakar itupun memang bendera HTI, organisasi yang sudah dilarang di Indonesia.

“Masalah pembakaran bendera kami dati Banser kan satu komando. Kalau atasan bilang jangan terprovokasi ya bawahan tidak terprovokasi masalah itu. Adapun pelaku sudah sepenuhnya kami serahkan ke piihak penegak hukum,” ungkapnya.

Busni pun menegaskan bahwa tidak ada niatan dari pelaku untuk membakar Tauhid. Karena yang niat dibakar adalah bendera HTI. Pasalnya hanya HTI itu saja yang memasang kalimat Tauhid di benderanya. Supaya organisasi ini tidak berkembang lagi di Indonesia.

“Kan lebih baik di bakar bendera HTI itu dari pada diinjak – injak. Sakit nanti hatinya. Kami Banser di Bali santai saja kok. Ndak terprovokasi” ungkapnya.
(jawapos.com/25/10/18)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories