Thu. Aug 16th, 2018

5 Fakta Rembuk Nasional Aktivis 98, Dari Lansia Hingga Surat Ijin Hoaks

5 Fakta Rembuk Nasional Aktivis 98, Dari Lansia Hingga Surat Ijin Hoaks. foto: kumparan.com


MUSTANIR.COM, Jakarta – Aksi Rembuk Nasional Aktivis ’98 digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (7/7). Acara yang diinisiasi oleh Sayed Junaidi Rizaldi itu bertujuan untuk mendeklarasikan dukungan terhadap Presiden Joko Widodo.

Lagu kebangsaan Indonesia Raya menjadi pembuka acara tersebut. Acara itu dihadiri langsung oleh Presiden Joko Widodo, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Ketua DPD Oesman Sapta Odang, Politikus Hanura Benny Ramdhani, politikus PDIP Adian Napitupulu, dan Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi, dan Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Ali Mochtar Ngabalin.

Berikut kumparan merangkum kejadian menarik serta fakta-fakta yang terjadi sebelum dan sesudah Aksi Rembuk Nasional Aktivis ’98:

Surat Perizinan Penggunaan Monas

1. Beredar surat larangan penggunaan Monas untuk Aksi Rembuk Nasional Aktivis 98
Beredar surat yang melarang Rembuk Nasional Aktivis 98 dilakukan di Monumen Nasional. Surat itu bernomor 002/Rembuknas 98/VI/2018 dan terlihat ditandatangani oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Namun Anies membantah telah menandatangi surat tersebut. “Itu hoaks. Saya tidak pernah tanda tangan.”
Surat itu awalnya diposting oleh akun @INTAN94OK di Twitter pada Rabu (4/4). Dalam unggahannya, ia mempertanyakan kepada Anies mengapa acara tersebut dilarang dilakukan di Kawasan Monas.

Namun Sabtu (7/7), @INTAN94OK yang telah mengganti username Twitternya menjadi @BUNDA94OK, menyampaikan permintaan maafnya atas surat hoaks yang ia posting. Dirinya mengaku salah dan ceroboh telah menyebarkan surat hoaks tersebut.

“Teman-teman aku minta maaf kalau memang twitku yang tempo hari dianggap hoaks. Bukan maksudku menyebar hoaks mungkin cuma kesalahan dan kecerobohanku. Sekali lagi mohon maaf pada Pak @aniesbaswedan,” tulisnya.

2. Mendukung Jokowi dua periode

Dalam acara itu, aktivis ’98 mendeklrasikan dukungan terhadap Jokowi di Pilpres 2019.Salah satu aktivis ’98 yang hadir, Wahap Tolauhu menyatakan dukungan ini karena menilai Jokowi memiliki komitmen yang kuat untuk mewujudkan cita-cita reformasi 1998.

“Karena kita semua yakin bahwa Ir. Joko Widodo memiliki komitmen kuat untuk mewujudkan cita-cita reformasi 1998,” kata Wahap dari atas panggung di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (7/7).

Bahkan Wahap juga menyebut Jokowi sebagai ‘anak kandung reformasi’. Julukan itu ia berikan karena menilai mantan Gubernur DKI ini tidak memiliki rekam jejak kejahatan ekonomi dan kemanusiaan.

3. Kaos OSO Group dan #2019TetapJokowi

Dari pantauan di lapangan par peserta aksi yang hadir terlihat kompak memakai kaus yang bertemakan melawan Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme.

Namun dari kerumunan para peserta terlihat beberapa peserta yang memakai baju berwarna kuning mirip corak Partai Hanura. Di kaus itu tercantum tulisan OSO Group di bagian belakang.

Oesman Sapta Odang adalah Ketum Hanura, partai pendukung pemerintah. Tak hanya itu, ada juga kaus yang dipajang dalam beberapa mobil dengan tulisan #2019TetapJokowi.

4. Massa Lansia Dibayar Rp. 100 ribu untuk ikut aksi
Acara yang berbuah dukungan kepada Presiden Joko Widodo untuk Pilpres 2019 ini nampaknya tidak semua datang dan berkaitan dengan aktivis 98. Setelah kumparan telusuri ternyata hasilnya sebagian tidak ada kaitannya.

Bahkan terdapat pula massa yang lansia. Seorang peserta bernama Yayan (70) ini mengaku tak mengetahui ada kegiatan Rembuk Nasional Aktivis ’98. Pria tua yang berasal dari Bandung ini awalnya diberitahu untuk bertemu dengan Jokowi.

“Kalau acaranya kurang tahu ada (Rembuk) tapi dikasih tahu mau ke Jakarta dan ketemu Jokowi aja. Saya dikasih tahu tetangga saja, kemudian bajunya dibagi-bagi panitia,” ujar Yayan kepada kumparan.

5. Tidak mewakili suara alumni aktivis 98

Alumni aktivis 98 sekaligus politisi Partai Gerindra Desmond Mahesa mengatakan acara Rembuk Nasional Aktivis ’98 sama sekali tidak mewakili keseluruhan suara dari alumni aktivis 98.
“Nggak (mewakili) lah.”

Wakil Ketua Komis III DPR RI ini juga menyoroti pengunjung yang menghadiri acara tersebut. Menurutnya, dari pengunjung yang hadir tidak memperlihatkan mereka merupakan alumni dari aktivis 98.
“Sejarah 98 jangan diobral murah,” pungkasnya.
(kumparan.com/08/07/2018)

Categories